GEOGRAFI TANAH




 untuk lebih lengkapnya file dapat download di sini
A. PENGERTIAN TANAH DAN GEOGEAFI TANAH
Semua orang yang tinggal di muka bumi ini tentunya mengenal tanah. Namun demikian apabila ditanya apa itu tanah, maka jawabannya akan bervariasi dan sangat tergantung dari latar belakang seseorang yang ditanya. Jika kita bertanya kepada petani tentang tanah, maka kemungkinan jawabannya tanah adalah tempat tumbuhnya tanaman. Jika kita bertanya kepada produsen batu bata atau genting, maka kemungkinan jawabannya adalah tanah sebagai bahan baku pembuatan batu bata atau genting.
Mengingat luasnya pengertian tentang tanah, maka perlu ada spesifikasi dari pengertian tanah. Pada awalnya tanah dianggap sebagai media alam tumbuhnya vegetasi yang tedapat di permukaan bumi. Berdasarkan definisi di atas, maka gurun pasir tidak dianggap sebagai tanah karena tidak dapat berfungsi sebagai media tumbuhnya vegetasi. Namun demikian dalam kenyataannya bahan pasir tersebut termasuk kategori tanah.
Pada saat ilmu kimia sedang berkembang, seorang ahli kimia bernama Berzelis (1803) menyatakan bahwa tanah merupakan laboratorium kimia alam dimana proses dekomposisi dan reaksi sintesis kimia berlangsung secara tenang. Pada tahap ini tanah sudah tidak dipandang lagi hanya sebagai alat produksi pertanian, melainkan sebagai tempat berlangsungnya segala reaksi kimia yang terjadi di alam.
Bersamaan dengan kemajuan ilmu kimia dan fisika, seorang ahli fisika bernama Thaer ( 1909 ), menyatakan bahwa ” Permukaan bumi kita terdiri atas bahan remah dan lepas yang dinamakan tanah. Tanah ini merupakan akumulasi dan campuran berbagai bahan, terutama terdiri atas unsur-unsurSi, Al, Ca, Mg, Fe dan lain-lainnya (Isa Darmawijaya. 1990: 5). Dengan definisi ini Thaer mengklasifikasikan tanah atas dasar partikelnya seperti pasir, debu dan lempung, yang ternyata masih tetap digunakan sebagai salah satu ciri dari klasifikasi tanah terbaru.
Pada tahun 1927 Marbut, seorang ahli tanah dari Amerika Serikat berusaha keras menggunakan ide pedologi Rusia yang dikembangkan oleh Dokuchaiev. Dia membuat definisi tanah sebagai berikut : Tanah merupakan lapisan paling luar kulit bumi yang biasanya bersifat tak padu ( unconsolidated ), mempunyai tebal mulai dari selaput tipis sampai lebih dari tiga meter yang berbeda dengan bahan di bawahnya, biasanya dalam hal warna, sifat fisik, susunan kimia, mungkin juga proses-proses kimia yang sedang berlangsung, sifat biologi, reaksi dan morfologinya ( Isa Darmawijaya. 1990: 8 ).
Definisi tanah yang menggunakan dasar dari pengertian tanah, berbunyi sebagai berikut : Tanah adalah akumulasi tubuh alam bebas yang menempati sebagian besar permukaan planet bumi, yang mampu menumbuhkan tanaman, dan memiliki sifat sebagai akibat pengaruh iklim dan jasad hidup yang bertindak terhadap bahan induk dalam keadaan relief tertentu selama jangka waktu tertentu pula ( Isa Darmawijaya. 1990: 9 ). Dari definisi tersebut nampak bahwa terdapat lima faktor yang berpengaruh dalam pembentukan tanah yaitu iklim, jasad hidup, bahan induk, relief dan waktu.
Sedangkan geografi tanah mempelajari tentang karakteristik dari berbagai jenis tanah, dan sebaran dari berbagai jenis tanah yang ada di muka bumi Sebenarnya karakterisitik berbagai jenis tanah dipelajari dalam ilmu tanah. Adapun geografi tanah lebih menekankan pada sebaran dari berbagai jenis tanah dan mempelajari faktor-faktor penyebab mengapa terjadi perbedaan jenis tanah antara tempat satu dengan tempat lainnya.
Dalam membahas ilmu tanah, terdapat dua sudut pandang kajian, yaitu
1. Pedologi
pedologi berasal dari kata Pedon yag berarti gumpal tanah. Pedologi menekankan pembahasan ilmu tanah sebagai ilmu pengetahuan alam murni yang meliputi :
  1. Genesa tanah ( asal mula pembentukan tanah ) dan
  2. Klasifikasi dan pemetaan tanah yang mencakup nama-nama, sistematik, sifat kemampuan dan penyebaran berbagai jenis tanah.
Dengan mempelajari pedologi dapat digunakan sebagai dasar penggunaan masing-masing jenis tanah secara efisien dan rasional.
2. Edaphologi
Edaphologi berasal dari kata edaphon yang berarti tanah yang subur. Edaphologi menekankan pembahasan mengenai penggunaan tanah untuk pertanian. Dalam hal ini penyelidikan tanah dilakukan untuk mengetahui hubungan antara tanah dengan tanaman tingkat tinggi agar mendapatkan oruduksi pertanian seoptimal mungkin.
Dalam kenyataannya di lapangan kedua pandangan ini sulit dipisahkan, karena kajian edaphologi membutuhkan pedologi dan kajian pedologi kurang bermanfaat jika tanpa ada kajian edaphologi.
B. GENESA TANAH
Tanah dapat terbentuk apabila tersedia bahan asal ( bahan induk ) dan faktor yang mempengaruhi bahan asal. Bahan asal atau bahan induk terbentuknya tanah dapat berupa mineral, batuan dan bahan organik. Sedangkan faktor yang mengubah bahan asal menjadi tanah berupa iklim dan organisma hidup. Terbentuknya tanah tersebut tentunya memerlukan suatu tempat ( relief ) tertentu dan juga memerlukan waktu yang cukup lama.
Apabila kita perhatikan definisi tanah yang dikemukakan oleh Isa Darmawijaya, maka akan nampak adanya lima faktor pembentuk tanah, yaitu :
  1. Bahan Induk
  2. Iklim
  3. Organisma Hidup
  4. Relief ( Topografi ) dan
  5. Waktu
Dari ke lima faktor tersebut, faktor pembentuk tanah yang paling dominan adalah faktor iklim. Bahan induk, organisma hidup dan relief keberadaannya dipengaruhi oleh iklim. Oleh karena itu pembentukan tanah sering disebut dengan istilah Weathering. Untuk memperjelas peranan dari masing-masing faktor pembentuk tanah, perhatikan uraian di bawah ini.
  1. Bahan Induk ( Bahan Asal )
Bahan induk merupakan bahan asal yang nantinya akan terbentuk tanah. Bahan induk dapat berupa mineral, batuan dan bahan organik (sisa-sisa bahan organik/ zat organik yang telah mati). Pengertian dari berbagai bahan induk tersebut adalah sebagai berikut :
a. Mineral
Mineral merupakan bahan alam homogen dari senyawa anorganik asli, mempunyai susunan kimia tetap dan susunan molekul tertentu dalam bentuk geometrik. Sifat mineral yang perlu diperhatikan untuk kepentingan ilmu pengetahuan antara lain : susunan kimia, struktur kristal, textur kristal dan kepekaan terhadap proses dekomposisi. Mineral dapat diketahui jenisnya berdasarkan susunan (composition), kristalisasi, bidang belahan (clevage), pecahan (farcture), sifat dalam (tenacity), derajat keras hardness), berat jenis (specific gravity), sikap tembus cahaya (diphenity), kilap (luster), warna (color) dan cerat (streak). Bagi keperluan ilmu tanah yang penting adalah mengenai jenis mineral di lapangan secara megaskopis, sedangkan susunan mineral secara kuantitatif harus ditentukan di laboratorium.
Mineral-mineral penyusun batuan tidak semuanya dapat membentuk tanah. Mineral dengan kekerasan 1 – 7 merupakan mineral penyusun batuan yang dapat berubah menjadi tanah. Berdasarkan skala Mohs, urutan kekerasan mineral adalah sebagai berikut :
1. Talks 6. Orthoklas
2. Gips 7. Kuarsa
3. Kalsit 8. Topas
4. Flourit 9. Korundum
5. Apatit 10. Intan
Karakteristik mineral secara rinci akan dipelajari dalam mata kuliah mineralogi petrologi. Namun demikian dalam bab ini akan dibahas mineral-mineral penting penyusun batuan yang berperan dalam bidang pertanahan dan pertanian.
1. Golongan Mineral Silikat
Golongan mineral silikat merupakan golongan mineral pembentuk tanah yang paling penting dan paling banyak. Mineral ini dapat terbentuk menjadi lempung ( clay ). Mineral ini tersusun atas senyawa silisium dengan unsur-unsur lainnya. ( contoh : Mikrolin, ortoklas, hornblende, analsit, muskofit, Biotit, Khlorit dsb )
  1. Golongan Mineral Oxida dan Hidroxida
Kuarsa ( SiO2 ) merupakan mineral Oxida Silika yang paling penting dalam pembentukan tanah. Kuarsa merupakan mineral penyusun kerak bumi yang paling banyak sesudah feldspat. Mencakup kurang lebih 12 % dari seluruh litosfer. Kuarsa banyak terdapat pada batuan yang sifatnya asam, keras sehingga proses dekomposisi lambat, sehingga mineral ini banyak terdapat pada farksi tanah kasar atau pasir. Mineral kuarsa berwarna putih dan mudah dikenali karena kenampakannya seperti gelas dan keras. ( Contoh : Limonit, Hematit, Magnetit, dan Gipsit )
3. Golongan Fosfat
Unsur P merupakan unsur hara yang penting bagi tanaman. Bentuk senyawa P yang paling mudah diserap akar tanaman adalah dalam Ca3PO4 dan Mg3PO4. Mineral utama sumber P yang ada dalam tanah adalah apatit. Apatit jarang terdapat dalamjumlah besar, namun dalam bentuk kristal kecil dalam batuan. Mineral ini mudah lapuk di bawah pengaruh air yang mengandung asam karbonat.
4. Golongan Karbonat
Kalsit ( CaCO3 ) meupakan mineral yang paling penting dalam golongan karbonat. Mineral ini merupakan mineral pokok dalam batuan kapur dan pualam. Kalsit mudah lapuk dan larut dalam air yang mengandung CO2. Oleh karena itu di daerah kapur banyak dijumpai dengan bentukan tajam di atasnya maupun di alasnya. Mineral kalsit berwarna putih, tembus cahaya, mudah dibelah, dan mudah digores.
5. Golongan Sulfur
Salah satu mineral golongan sulfur yang penting adalah Gips (gypsum) CaSO4.2H2O yang berwarna putih dan tembus cahaya. Mineral gips dapat terbentuk sebagai akibat endapan sisa garam pada laipsan tanah dalam di daerah arid atau semiarid. Didaerah basah unsur ini digunakan untuk pembuatan pupuk. Gips terutama terbentuk karena endapan dalam laut akibat reaksi antara Ca sarang hewan laut dengan S yang terbentuk sebagai akibat perombakan jasad plankton.
6. Golongan Lempung
Mineral lempung merupakan hasil dekomposisi dari mineral silikat primer. Mineral lempung terdapat dalam tanah liat dalam bentuk butir kecil berukuran < 0,002 mm. Terdapat tiga golongan mineral lempung yang penting yaitu golongan :
    1. kaolinit (Al2O3),
    2. monmorilonti (Al2O3.3SiO3.4H2O), dan
    3. illite (sumber K dalam tanah ).
b. Batuan
Batuan merupakan bahan alam padat yang menyusun kerak bumi atau litosfer. Pada umumnya batuan tersusun atas dua mineral atau lebih, tetapi juga ada yang hanya tersusun oleh satu mineral, yaitu batuan gamping (Ca CO3). Batuan penyusun kerak bumi berasal dari batuan cair pijar dengan suhu tinggi yang disebut dengan magma. Magma berasal dari lapisan mantel yang menyusup menuju ke permukaan bumi melewati celah-celah yang ada di kerak bumi (litosfer).
Dalam perjalanannya menuju ke permukaan bumi magma dapat membeku jauh di bawah permukaan bumi, di celah-celah (gang) di dekat permukaan bumi, maupun membeku di luar permukaan bumi. Berdasarkan proses pembentukannya, batuan dapat dibedakan menjadi :
  1. Batuan beku
Untuk membedakan antara batuan beku dengan batuan lainnya, maka perlu diperhatikan ciri-ciri umum dari batuan beku. Jika kalian pergi ke suatu tempat, misalnya di bagian hulu sungai dan kalian mendapatkan batu maka amatilah batu tersebut. Jika batu tersebut ternyata tidak ada tanda-tanda bekas kehidupan (fosil), mempunyai tekstur padat, mampat, serta strukturnya homogen, maka dapat dikatakan bahwa batuan tersebut merupakan batuan beku.
Magma yang bergerak menuju ke permukaan bumi akan mengalami pembekuan dalam perjalanannya. Jika magma membeku di dalam bumi pada kedalaman antara 15 – 50 km, maka magma yang membeku tersebut disebut dengan batuan beku dalam dan batuan plutonik. Dalam perjalanannya ke permukaan bumi kadang-kadang magma melewati jalur-jalur rekahan atau gang dan kemudian membeku. Magma yang membeku di gang-gang disebut dengan batuan gang (korok). Adapun magma yang keluar ke permukaan bumi lewat gunung berapi dan kemudian membeku di luar, disebut dengan batuan lelehan atau batuan vulkanik. Jika keluarnya ke permukaan bumi melalui lelehan maka disebut dengan batuan efusi dan jika keluarnya terlempar ke udara maka disebut dengan batuan eflata