Selasa, 03 April 2012

Ini Tugas Komunikasi Interpersonal


INI DOSENKU!!!!!
Siapakah dosen itu? Dosen  adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Pendapat di atas adalah pandangan dari arti dosen yang diambil oleh para ahli dan dimasukkan ke dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2009, tentang dosen. Namun bagaimana dosen menurut pandangan mahasiswa? Tentu jawabannya beranekaragam, bahkan tidak semua dosen mendapat kesan yang baik di mata mahasiswa. Dari sudut pandang mahasiswa, dosen mempunyai berbagai macam karakter. Entah itu lucu, galak, disiplin, hingga dosen yang menjadi favorit para mahasiswa.
Menurut Gurnito mahasiswa Pendidikan Geografi angkatan 2010 UNY, terdapat beberapa dosen di Jurusan Geografi yang kurang mencerminkan sikap atau perilaku yang baik kepada para mahasiswa. Untuk masalah kedisiplinan dosen tersebut hampir setiap perkuliahan pasti terlambat, entah dengan berbagai macam alasan. Hal tersebut juga didukung oleh pendapatnya Agnes mahasiswi Pendidikan Geografi angkatan 2011 UNY. Ia juga mengatakan bahwa tidak hanya ada satu dosen yang sering terlambat. Ia sangat menyesalkan kedisiplinan para dosen yang kurang baik, padahal ia dan teman-temannya sudah semangat untuk mengikuti perkuliahan. Namun karena terdapat beberapa dosen yang kurang disiplin dan sering terlambat masuk, semangat perkuliahan mereka pun menjadi lebur seiring dengan penantian yang tak pasti dari kedatangan dosen-dosen yang kurang disiplin.
Hanafi Febrian mahasiswa Pendidikan Geografi angkatan 2010 UNY, berpendapat lain. Ia melihat dosen dari sudut pandang cara mengajar dan penguasaan materinya. Untuk masalah ini terdapat beberapa tipe-tipe mengajar dosen. Terdapat dosen yang dalam menyampaikan materi hanya lewat ceramah saja tanpa pernah melakukan variasi seperti diskusi kelompok atau tanya-jawab. Cara mengajar klasik seperti itu menurut pandangan hanafi sangat tidak efektif karena mahasiswa banyak yang merasa bosan dan mengantuk. Akibatnya banyak materi yang kurang difahami oleh para mahasiswa dan sewaktu ujian akan merasa kesulitan untuk mengerjakannya. Rumi Chusnan mahasiswi Pendidikan Geografi angkatan 2011 UNY pun berpendapat demikian. Ia juga menambahkan bahwa terdapat dosen yang dalam mengajar kurang menguasai materi. Hal tersebut dapat terlihat dari seringnya dosen berbicara ngalor-ngidul ­yang tidak ada hubungannya dengan materi pelajaran. Ia juga memberikan solusi, seharusnya dosen hanya mengajar pada bidang atau materi yang sesuai dengan keahliannya saja. Bila tetap dipaksakan seperti saat sekarang ini, mahasiswa hanya mendapat materi-materi sangat dasar saja. Bahakan tidak sedikit materi yang disampaikkan sudah diajarkan di bangku SMA. Namun Sapta Suhardana mahasiswa Pendidikan Geografi angkatan 2010 UNY berpendapat lain. Ia mengatakan bahwa tidak semua dosen memiliki cara dan teknik mengajar yang kurang baik. Menurutnya masih terdapat dosen-dosen yang memiliki teknik dan cara mengajar yang sangat bagus. Cara mengajarnya tidak terlalu lambat dan cepat, runtut, dan jelas. Mahasiswa pun diberikan waktu untuk bertanya bila masih terdapat materi-materi yang kurang jelas. Hal tersebut menjadikan mahasiswa merasa nyaman dalam proses pembelajaran sehingga materi-materi yang disampaikan dosen dapat mudah dipahami oleh para mahasiswa.
Sedangkan pandangan mahasiswa terhadap selera humor dosen pun bervarias. Menurut Anggi Tyas mahasiswa Pendidikan Geografi angkatan 2010 UNY, terdapat dua tipe cara humor dosen, yaitu humor intelektual dan humor standar. Dosen yang berhumor intelektual adalah mereka yang bercanda dengan teka-teki namun masih berhubungan dengan materi, sehingga mahasiswa harus berfikir dahulu untuk kemudian mengerti hal tersebut merupakan sebuah lelucon. Tetapi banyak juga mahasiswa yang tidak mengerti atau tidak faham dari teka-teki humor yang diberikan. Sedangkan untuk humor standar adalah lelucon yang dilakukan dosen dengan hal-hal biasa, seperti membuat lelucon dengan mempermainkan nama atau bentuk fisik mahasiswa. Humor seperti itu yang justru lebih sering digunakan oleh para dosen. Padahal humor dengan cara tersebut tidak terlalu digemari oleh mahasiswa, terlebih lagi mahasiswa yang menjadi objek lelucon. Tidak semua mahasiswa bisa menerima ejekan yang didapat dari dosen, ada juga mahasiswa yang sebenarnya tidak suka menjadi objek lelucon hanya bias diam dan sakit hati. Hal tersebut kurang baik untuk mahasiswa itu sendiri karena bias menurunkan semangat belajarnya. Menurut Nurman seharusnya dalam memberikan lelucon para dosen harus dapat membaca situasi dan kondisi mahasiswanya. Karena tidak semua mahasiswa itu mempunyai sifat dan pandangan humor yang sama.
Untuk masalah kedekatan dosen dengan mahasiswa atau interaksi antara dosen dengan mahasiswa pun berbeda-beda. Menurut pendapat Dody Putera mahasiswa Pendidikan Geografi angkatan 2010 bahwa terdapat dosen yang sangat dekat dengan mahasiswa dan terdapat juga dosen yang sangat sulit untuk ditemui oleh mahasiswa. Dosen yang dekat dengan mahasiswa adalah dosen-dosen yang terbuka dan senantiasa meluangkan waktu untuk para mahasiswa yang akan bertemu untuk berkonsultasi, meminta tanda tangan, atau hanya sekedar untuk mengobrol saja. Dody juga berpendapat bahwa di fakultasnya terdapat dosen yang sangat dekat dengan mahasiswa. Dosen tersebut tidak menganggap adanya perbedaan status antara mahasiswa dan dosen. Bila ada mahasiswa yang ingin sharing dengannya, pasti akan dipersilahkan dengan senang hati, tetapi sebagai mahasiswa juga harus tetap menghormati dosen sebagai orang yang lebih tepatnya atau dalam bahasa jawa mahasiswa harus tetap mempunyau unggah-ungguh ­kepada dosennya.
Menurut Dimas Prasetyo mahasiswa Pendidika Geografi angkatan 2010 yang berpendapat bahwa ada dosen yang bias dikatakan kurang terjadi hubungan yang dengan mahasiswanya. Sangat sulit bertemu untuk sekedar berkonsultasi materi perkuliahan saja. Bila ingin meminta tanda tangannya pun harus pada jam kerja dan itu dilakukan di ruang kerjanya. Padahal bila dibandingkan masih banyak dosen yang siap melayanai mahasiswa setiap saat untuk sekedar meminta tanda tangan. Dimas menganggap dosen yang seperti itu merasa dirinya adalah seperti raja yang harus sangat ditaati dan ditakuti segala perintahnya oleh para mahasiswa, padahal salah satu hak mahasiswa adalah mendapat pelayanan akademik dari dosen.
Menurut Aldilla Rizky Prita mahasiswi Sastara Inggris angkatan 2010 UNY mengatakan bahwa salah dosen yang mengajar mata kuliah kritik sastra . dosennya asik dan dekat dengan mahasiswa. Untuk penguasaan materi sudah bias dilihat  dari cara mengajar dan penyampain materi. Karena keterdekatannya dengan mahasiswa maka dosen tersebut menjadi dosen favorit mahasiswa di jurusannya. Disamping itu dosen dalam pemberian nilai pun variatif, tetapi mayoritas tetap mengacu pada standar yang ada. Untuk masalah nilai itu tergantung dari mahasiswanya sendiri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Mahasiswa Pendidikan Geografi Universitas Negeri Yogyakarta Angkatan 2010

My Writings