Senin, 09 Januari 2012

kajian kurikulum dan buku teks



II. KAJIAN KONSEP
A. Pengertian Kurikulum
Pada bagian ini diuraikan pengenalan umum tentang kurikulum dan seperangkat konsep-konsep yang dapat digunakan untuk menganalisis materi tersebut. Bagi seseorang yang baru mendengar atau mengenal tentang kurikulum untuk pertama kali, biasanya akan bertanya "Apakah kurikulum itu?" atau "Seberapa pentingkah kurikulum itu?". Ini merupakan contoh pertanyaan yang sederhana, tetapi pertanyaan tersebut tidak secara mudah dapat dijawab. Apabila dijawab pun belum tentu akan langsung puas dengan jawaban yang diberikan.
Untuk dapat menjawab pertanyaan di atas, dalam bagian ini akan disajikan beberapa pengertian tentang kurikulum yang dapat dikaji lebih lanjut agar dapat diketahui pentingnya kurikulum dalam sistem pendidikan. Sesuai dengan kenyataan yang ada sekarang, para pendidik akan dapat membuat programprogram operasional untuk kegiatan belajar mengajar di sekolah apabila didasarkan pada kurikulum.
Sementara itu, memahami sejarah perkembangan kurikulum pada hakekatnya akan menyadarkan kita bahwa perubahan kurikulum khususnya dalam suatu system pendidikan yang sudah mapan dan baik merupakan suatu hal yang dianggap biasa dan selalu terjadi. Perubahan akan dilakukan, baik dalam kurun waktu tertentu dan teratur maupun kapan saja apabila perubahan tersebut dianggap perlu. Perubahan biasanya diarahkan agar kurikulum paling tidak mampu menjawab perubahan kehidupan dan tatanan masyarakat, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta perkembangan-perkembangan lainnya yang mungkin terjadi setiap saat.
Menjelaskan pengertian kurikulum mungkin merupakan pekerjaan yang paling sulit. Hal ini disebabkan pengertian kurikulum yang terdapat sekarang ini berbeda antara yang satu dengan yang lainnya sesuai dengan cara pandang para ahlinya masing-masing. Untuk memahami sifat dan tingkat perbedaan tersebut, alangkah baiknya mengkaji terlebih dahulu berbagai pengertian kurikulum yang dikemukakan oleh ahlinya masing-masing.
  1. John Dewey (1902) sejak lama telah menggunakan istilah kurikulum dan hubungannya dengan anak didik. Dewey menegaskan bahwa kurikulum dan anak didik merupakan dua hal yang berbeda tetapi kedua-duanya adalah proses tunggal dalam bidang pendidikan.
Kurikulum merupakan suatu rekonstruksi berkelanjutan yang memaparkan pengalaman belajar anak didik melalui suatu susunan pengetahuan yang terorganisir dengan baik yang biasanya disebut kurikulum.
  1. Franklin Bobbit (1918) menyatakan bahwa kurikulum adalah susunan pengalaman belajar terarah yang digunakan oleh sekolah untuk membentangkan kemampuan individual anak didik.
  2. Harold Rugg (1927) mengartikan kurikulum sebagai suatu rangkaian pengalaman yang memi liki kemanfaatan maksimum bagi anak didik dalam mengembangkan kemampuannya agar dapat menyesuaikan dan menghadapi berbagai situasi kehidupan.
  3. Hollins Caswell (1935) menyatakan bahwa kurikulum adalah susunan pengalaman yang diguna kan guru sebagai proses dan prosedur untuk membimbing anak didik menuju ke kedewasaan.
  4. Ralph Tyler (1957) menegaskan bahwa kurikulum adalah seluruh pengalaman belajar yang direncanakan dan diarahkan oleh sekolah untuk mencapai tujuan pendidikannya.
  5. Hilda Taba (1962) mengatakan bahwa kurikulum adalah pernyataan tentang tujuan-tujuan pendi dikan yang bersifat umum dan khusus, dan materinya dipilih dan diorganisasikan berdasarkan suatu pola tertentu untuk kepentingan belajar dan mengajar. Biasanya dalam suatu kurikulum sudah termasuk dengan program penilaian hasilnya.
  6. Robert Gagne (1967) mengartikan bahwa kurikulum adalah suatu rangkaian unit materi belajar yang disusun sedemikian rupa sehingga anak didik dapat mempelajarinya berdasarkan kemampu an awal yang dimiliki/dikuasai sebelumnya.
  7. James Popham dan Eva Baker (1970) mengatakan bahwa kurikulum adalah seluruh hasil bela jar yang direncanakan dan merupakan tanggung jawab sekolah. Materi kurikulum mengacu kepada tujuan pengajaran yang diinginkan.
  8. Michael Schiro (1978) mengartikan kurikulum sebagai proses pengembangan anak didik yang diharapkan terjadi dan digunakan dalam perencanaan pengajaran.
  9. Saylor, Alexander, dan Lewis (1981) mengartikan kurikulum sebagai suatu rencana yang berisi sekumpulan pengalaman belajar untuk anak didik yang akan dididik.
Sedangkan pengertian kurikulum sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah
"seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan
pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan
kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu."
Apabila kita telaah, akan terlihat bahwa pengertian-pengertian tersebut pada dasarnya memiliki arti yang hampir sama namun berbeda dalam ruang lingkup penekanannya. Sebagian pengertian kurikulum ditafsirkan secara luas yang penekanannya mencakup seluruh pengalaman belajar yang diorganisasikan dan dikembangkan dengan baik serta dipersiapkan bagi anak didik untuk mengatasi situasi kehidupan sebenarnya. Sedangkan pengertian lainnya ditafsirkan secara sempit yang hanya menekankan kepada kemanfaatannya bagi guru dalam merencanakan kegiatan belajar mengajar.
Menurut Glatthorn (1987), pengertian kurikulum paling tidak harus memenuhi dua kriteria yaitu (1) kurikulum harus mencerminkan pengertian umum tentang peristilahan pendidikan sebagaimana sering digunakan oleh pendidik, dan (2) kurikulum harus bermanfaat bagi guru dalam membuat perencanaan pengajaranyang baik.
Glatthorn sendiri mengartikan kurikulum adalah rencana yang dibuat untuk membimbing anak belajar di sekolah, disajikan dalam bentuk dokumen yang mudah ditemukan, disusun berdasarkan tingkat-tingkat generalisasi, dapat diaktualisasikan dalam kelas, dapat diamati oleh pihak yang tidak berkepentingan, dan dapat membawa perubahan tingkah laku.
Yang paling menarik dari pendapat Glatthorn adalah bahwa rencana tersebut harus fleksibel agar dapat memungkinkan dilakukan perbaikan seperlunya apabila proses sedang berlangsung. Ungkapan tentang bentuk dokumen yang mudah ditemukan memberikan petunjuk yang cukup luas dengan kemungkinan bahwa kurikulum dapat disimpan dan diedarkan melalui perangkat komputer, yaitu suatu cara penyimpanan kurikulum dalam database komputer dan penyalurannya ke sekolahsekolah melalui jaringan internet yang mungkin dapat diwujudkan pada waktu yang akan datang.
B. Sejarah Perkembangan Kurikulum
Memahami sejarah perkembangan kurikulum dari sejak awal berguna untuk menjelajahi masa-masa aliran yang mempengaruhi perubahan kurikulum. Perubahan kurikulum khususnya di negara-negara yang sudah maju sering dipengaruhi oleh dan/atau sebagai perwujudan dari kekuatan masyarakat, dan perubahan itu biasanya menawarkan suatu pandangan yang lebih luas. Istilah resminya adalah "innovations and reforms."
Sejarah perkembangan kurikulum secara kronologis telah mengalami enam masa yang masing-masing mempunyai ciri istimewa, yaitu "academic scientism, progressive functionalism, developmental conformism, scholarly structuralism, romantic radicalism, dan privatistic conservatism."
Academic Scientism: 1890-1916
Pada masa ini terdapat dua pengaruh yang nampaknya berkuasa yaitu para ahli dari kalangan dunia perguruan tinggi yang telah berhasil secara sistematis dan efektif membuat kurikulum yang didasarkan kepada struktur disiplin keilmuan, dan para teoritikus pendidikan yang memanfaatkan ilmu pengetahuan dalam penyusunan kurikulum bagi kepentingan pendidikan. Tokoh-tokoh terkenal pada masa ini adalah antara lain Charles W. Eliot, Stanley G. Hall, dan Francis W. Parker.
Eliot beranggapan bahwa kurikulum yang terbaik adalah kurikulum yang cocok bagi anak didik yang akan mempelajarinya. Hall, seorang psikolog terkemuka aliran Darwinism, meyakini bahwa perubahan sosial terjadi secara evolusi, ia tidak berubah secara radikal. Oleh karena itu, tugas pokok kurikulum adalah mendukung perubahan setahap demi setahap dengan cara pembimbingan dan pemberian kesempatan tumbuh kepada anak didik melalui kegiatan individual atau "child-- centered education." Sedangkan Parker yang oleh Dewey disebut sebagai "the father of progressive education" nampaknya lebih berpengaruh dan berperanan daripada Hall terhadap perkembangan pendidikan dan kurikulum. Sumbangan pemikiran Parker terhadap teori kurikulum sangat jelas dengan gagasan "the childcentered curriculum", yaitu suatu kurikulum yang disusun atas dasar kebutuhan anak didik.
Dalam masa ini, pengaruh yang paling kuat dan menarik adalah pandangan aliran scientific. Pandangan mereka telah mempengaruhi para pemikir pendidikan lainnya dalam tiga hal pokok. Pertama, pandangan bahwa ilmu pengetahuan menyediakan dukungan intelektual untuk berpikir rasional. Berbagai masalah dapat diatasi dengan menerapkan cara berpikir rasional dalam proses ilmiah.
Kedua, pandangan bahwa ilmu pengetahuan menyediakan materi untuk kurikulum. Bahkan Flexner (1916) telah membuktikan keunggulan ilmu pengetahuan tersebut. Flexner mengatakan bahwa tujuan utama dari sekolah adalah untuk mempersiapkan anak didik menguasai dunia nyata, dan persiapan itu akan lebih sempurna apabila dilengkapi dengan ilmu-ilmu eksakta dan sosial. Selanjutnya, ia mengusulkan agar dalam kurikulum hendaknya memusatkan perhatian kepada empat bidang utama yaitu "science, industry, aesthetics, and civics." Terakhir, pandangan bahwa ilmu pengetahuan menyediakan wahana untuk perbaikan sekolah. Ilmu pengetahuan menghasilkan pandangan dan dukungan utama tentang sifat kurikulum yang diinginkan dan tentang apa yang seharusnya dipelajari oleh anak didik.

Progressive Functionalism: 1917-1940
Masa ini ditandai oleh pertemuan dua aliran yang nampaknya berbeda pandangan. Yang satu adalah para pengikut John Dewey dengan "the child-centered orientation", dan yang lainnya adalah para ahli kurikulum.
Para pendukung "the child-centered curriculum atau juga sering disebut dengan "progressive education" memulai menyusun kurikulum dengan menentukan terlebih dahulu minat anak didik, dan selanjutnya materi yang dipilih dikaitkan dengan minat tersebut. "The child-centered curriculum" pada hakekatnya adalah kurikulum yang didasarkan kepada minat, kebutuhan, kemampuan untuk belajar, dan pengalaman anak didik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Para ahli kurikulum atau "functionalism" sebaliknya mengatakan bahwa kurikulum harus berasal dari analisis tentang fungsi dan kegiatan penting dari kehidupan orang dewasa. Sebagai contoh pembuatan kurikulum yang dilakukan oleh para "functionalsm" adalah "Curriculum Construction" yang disusun oleh Charters (1923). Ia mengusulkan tujuh tahapan proses untuk mengembangkan kurikulum sebagai berikut:
1) Determine the major objectives by studying the life of man in its social setting. Such major objectives as citizenship and morality were suggested.
2) Analyze those objectives into ideals and activities, continuing the analysis of the level of working units. The ideals should be identified by the faculty; the activities should be derived from objectives studies of the activities of men in society. This series of discrete and highly detailed steps.
3) Arrange these and ideals and activities in their order of importance.
4) Place in a higher order in this list those ideals and activities which are high in value for children but low in value for adults, such as the activity of game and the ideal of obedience.
5) Determine the number of most important items which can be handled in the time provided for schooling, deducting those which are better learned outside of school.
6) Collect the best practices of the race in handling those ideals and activities.
7) Arrange the resulting materials in the appro priate instructional order, being sensitive to the psychological nature of children.
Lebih jelasnya tujuh usulan Charters seperti tersebut di atas yaitu:
(1) menentukan sasaran pokok dengan mempelajari kehidupan manusia dalam lingkungan masyarakatnya. Sasaran pokok semacam itu disarankan yang berkaitan dengan kewarganegaraan dan moralitas;
(2) menguraikan sasaran-sasaran tersebut ke dalam tujuan-tujuan dan kegiatan kegiatan yang dilanjutkan dengan analisis pada tingkat unit-unit kerja.
Tujuan-tujuan hendaknya dirumuskan oleh ahlinya dan kegiatan-kegiatan hendaknya bersumber dari penelaahan terhadap kegiatan manusia dalam masyarakat. Rangkaian ini merupakan langkah-langkah yang sangat terinci dan memiliki ciri-ciri tersendiri;
(3) menyusun semua hal tersebut berdasarkan urutan kepentingannya;
(4) menempatkan tujuan dan kegiatan yang bernilai tinggi bagi anak-anak tetapi bernilai rendah bagi orang dewasa, misalnya kegiatan bermain dan ketaatan;
(5) menentukan sejumlah item yang paling penting yang dapat dikerjakan dalam waktu yang tersedia untuk kegiatan pendidikan di sekolah dengan mengurangi jumlah item yang dapat dipelajari di luar lingkungan sekolah;
(6) mengumpulkan berbagai keterangan tentang praktik pelaksanaan kurikulum yang terbaik dalam pencapaian tujuan dan kegiatan; dan
(7) menyusun bahan pelajaran dalam rencana pengajaran yang sesuai dengan sifat psikologis anak.
Pada akhir usulannya, Charters membuat lebih jelas pandangan functionalism dengan mengatakan: "School projects cannot be selected haphazard. They are controlled by two factors: on the one hand they must parallel life activities, and on the other hand they must include the items of the subjects in their proper proportions".
Menurut pandangan Charters di atas, rancangan yang berhubungan dengan sekolah tidak dapat dipilih secara serampangan atau sembrono karena hal tersebut dikontrol oleh dua faktor yaitu disatu pihak harus selaras dengan kegiatan hidup, dan dipihak lainnya harus mencakup sejumlah mata pelajaran dalam proporsi yang tepat.
Dua figur tokoh yang pandangannya mengenai kurikulum saling berlawanan arah yaitu: John Dewey dan Franklin Bobbit. Kedua tokoh tersebut mempunyai pengaruh kuat pada zamannya. John Dewey menguji keyakinannya yang satu sama lainnya bertalian erat :
(1) keyakinannya tentang hubungan sekolah dan masyarakat;
(2) keyakinannya tentang teori "the child-centered curriculum", dan
(3) pelaksanaan teori tersebut dalam Laboratory School di Universitas Chicago.
Sedangkan dalam pandangan Bobbit, kurikulum adalah perangkat apa saja yang dapat digunakan untuk mengolah bahan mentah (the chlid) menjadi hasil akhir (the model of adult).
Development Conformism: 1941-1956
Periode berikutnya adalah zamannya "developmental conformism". Periode ini ditandai oleh adanya peningkatan perhatian terhadap implikasi pendidikan anak dan perkembangan anak remaja. Archambaust (1964) mengatakan bahwa John Dewey telah sekian lama mengamati tingkat pertumbuhan anak dan remaja secara jelas: "... the aim of education is growth or development, both intellectual and moral. Ethical and psychological principles can aid the school in the greatest of all constructions; the building of a free and powerful character. Only knowledge of the order and connection of the stages in psychological development can insure
this. Educations is the work of supplying the conditions which will enable the psychological functions to mature in the freest and fullest manner".
Tujuan pendidikan menurut Dewey adalah pertumbuhan atau perkembangan, baik intelektual maupun moral. Prinsip-prinsip etika dan psikologi dapat membantu sekolah dalam pengembangan dan pembentukan karakter yang bebas dan penuh kekuatan. Hanya ilmu pengetahuan yang tersusun dan terkait dengan tingkat perkembangan psikologi yang dapat menjamin hal itu. Pendidikan adalah kegiatan pemenuhan kondisi yang akan memungkinkan fungsi-fungsi psikologi ke tingkat kematangan dalam sikap.
Dua teoritikus kurikulum yang nampaknya penting dalam periode ini adalah Ralph Tyler dan Hollis Caswell. Tyler (1950) merumuskan pertanyaan-pertanyaan dasar yang harus dijawab dalam pengembangan kurikulum. Pertanyaan pertama, "What educational purposes should the school seek to attain?" (tujuan-tujuan pendidikan apa yang seharusnya dicapai oleh sekolah?). Menurut Tyler, tujuan-tujuan pendidikan dapat diidentifikasi dengan cara menelaah tiga sumber yaitu: (1) peserta didik itu sendiri; (2) kehidupan masa sekarang di luar lingkungan sekolah;
dan (3) pertimbangan para ahli disiplin keilmuan. Tyler menyadari bahwa dengan analisis yang menyeluruh terhadap ketiga sumber tersebut akan menghasilkan aneka tujuan, beberapa diantaranya mungkin saling bertentangan. Oleh karena itu, para ahli kurikulum perlu memilih tujuan-tujuan dengan menggunakan dua "screens" yaitu: filsafat pendidikan dan psikologi belajar.

Tyler menyarankan bahwa tujuan hendaknya dirumuskan dalam bentuk dua dimensi yaitu:
  1. komponen tingkah laku yang mengidentifikasi pentingnya tingkah laku belajar,
misalnya perkembangan cara berpikir efektif, dan
(2) komponen materi yang diambil dari disiplin keilmuan.
Pertanyaan kedua, "How can learning experiences be selected which are likely to be useful in attaining these experiences?" (bagaimana pengalaman belajar dapat dipilih yang mungkin berguna dalam pencapaian pengalaman tersebut?). Tyler mengemukakan beberapa prinsip umum yang dijadikan pedoman oleh para perencana kurikulum dalam memilih tujuan. Pertama, pilihlah pengalaman yang memberikan kesempatan anak didik untuk dapat mempraktekkan jenis tingkah laku seperti ditetapkan oleh tujuan. Kedua, pengalaman yang dipilih hendaknya sesuai dengan kemungkinan kemampuan anak didik. Ketiga, anak didik hendaknya dapat memperoleh kepuasan setelah mempraktekkan jenis tingkah laku yang ditetapkan.
Terakhir, perlu disadari bahwa pengalaman belajar yang sama yang diberikan kepada seluruh anak didik akan menghasilkan hasil yang berbeda.
Pertanyaan ketiga, "How can learning experiences be organized for effective instruction?" (bagaimana pengalaman belajar dapat diorganisasikan untuk pengajaran yang efektif?). Dalam penetapan tentang organisasi kegiatan atau pengalaman belajar, Tyler menyarankan para pengembang kurikulum hendaknya mempertimbangkan tiga kriteria sebagai berikut: "continuity, sequences, and integration". "Continuity" mengacu kepada pengulangan kegiatan belajar secara
vertikal. Maksudnya adalah organisasi pengalaman belajar harus dapat mengembangkan dan memberikan kesempatan secara terus-menerus kepada anak didik dalam mempraktekkan kegiatan tersebut; "sequences" adalah pengalaman belajar harus dapat diurutkan secara lengkap mulai dari awal hingga akhir pencapaian tujuan dan mulai dari yang paling mudah sampai dengan yang paling sulit atau sukar; dan "integration" adalah hubungan secara horizontal diantara urutan pengalaman belajar untuk menjamin keseimbangan tingkah laku yang
diinginkan.
Pertanyaan terakhir, "How can the effectiveness of learning experiences be evaluated?" (bagaimana keefektifan pengalaman belajar dapat dinilai?). Tyler menyarankan agar dapat mengembangkan penilian dengan alat uji yang "valid and reliable" dan yang didasarkan kepada kurikulum serta hasilnya digunakan untuk menyempurnakan kurikulum. Bentuk penilaian seperti disarankan oleh Tyler akan dibahas dalam bab yang membahas tentang penilaian kurikulum.
Tokoh kedua, Caswell (1935) pertama memandang pentingnya pengembangan staf perencana kurikulum sebagai kebutuhan dasar dalam menyusun suatu kurikulum.
Kedua, guru-guru hendaknya dilibatkan dalam pengembangan kurikulum.
Terakhir, pengembangan perangkat yang berguna bagi pengorganisasian kurikulum dengan menggabungkan tiga serangkai: "child interests, social meaning, and subject matter". Caswell mulai menyusun kurikulum dengan menelaah berbagai aspek yang diketahuinya tentang perkembangan anak guna mengidentifikasi bakat dan minat penting dari anak. kemudian ia beralih kepada masyarakat untuk mengidentifikasi fungsi dan aspek kehidupan masyarakat yang sesuai dengan perkembangan anak. Akhirnya, ia menelaah pentingnya materi pelajaran, dalam hal ini ia menghubungkan fungsi dan aspek kehidupan sosial yang sekiranya tepat
untuk materi pelajaran.
Scholarly Structuralism: 1957-1967
Informasi yang diperoleh dalam periode ini tidak begitu banyak. Kejadian yang paling menarik bahkan menggemparkan dunia terutama pihak Amerika Serikat adalah peluncuran satelit ruang angkasa pertama Sputnik kepunyaan Uni Soviet.
Amerika Serikat sangat terpukul dengan peristiwa ini dan untuk mengejar ketinggalannya, Pemerintah Federal Amerika Serikat telah menyediakan dana besar-besaran untuk peningkatan program pelajaran ilmu-ilmu eksakta seperti ilmu fisika dan matematika di sekolah-sekolah.
Salah satu teoritikus kurikulum yang tercatat dalam periode ini adalah Jerome Bruner. Bruner seorang psikolog dari Universitas Harvard memimpin suatu konferensi yang dihadiri oleh para ahli science, matematika, dan psikologi atas prakarsa "the National Academy of Sciences" selang setahun setelah peluncuran satelit Uni Soviet. Tujuan utama dari konferensi adalah perbaikan program pelajaran science dan matematika dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah di Amerika Serikat. Laporan akhir konferensi ditulis oleh Bruner (1960) dengan judul "The Process of Education", sebuah buku yang berisi usaha-usaha ambisius untuk peningkatan pendidikan. Dalam buku ini Bruner secara meyakinkan memberikan dasar yang meliputi banyak hal yang dapat digunakan oleh para pengikut scholarly structuralism. Pertama, kurikulum sekolah harus
mengutamakan kemudahan "the transfer of learning". Berhubung waktu sekolah amat terbatas, guru harus mencari alat yang efisien untuk hal tersebut. "The transfer of learning" akan dapat dicapai dengan baik apabila kurikulum secara eksplisit direncanakan untuk memungkinkan anak didik memahami struktur ilmupengetahuan. Mengenai hal ini lebih lanjut Bruner mengatakan bahwa kontinuitas belajar dihasilkan oleh penguasaan struktur ilmu pengetahuan, lebih fundamental atau mendasar gagasan yang ia pelajari akan lebih besar dan luas penggunaannya
terhadap masalah-masalah baru.
Kedua, cara yang paling baik dalam mempelajari struktur ilmu pengetahuan adalah melalui "discovery or inquiry approach" di mana anak didik berfungsi sebagai ahli ilmu pengetahuan muda, ahli kimia muda, dan lain sebagainya. Mempelajari ilmu kimia, sebagai contoh, anak harus betul-betul bertindak seperti ahli kimia.
Pendapat Bruner sangat bertentangan dengan pendapat Piaget. Piaget berteori bahwa cara belajar seseorang akan ditentukan oleh tingkat perkembangan usianya, sedangkan Bruner berteori bahwa anak yang masih muda sekalipun dapat mempelajari struktur ilmu pengetahuan sebab kegiatan intelektual pada tingkat usia manapun pada dasarnya adalah sama. Selanjutnya Bruner mengatakan bahwa kurikulum yang disusun berdasarkan penggunaan gagasan pikiran yang terbaik yang akan menghasilkan para ilmuwan.
Dalam tahun-tahun berikutnya Bruner (1973) mengembangkan "the structurebased curricula" untuk menggantikan kurikulum yang hanya bersangkut paut dengan masalah-masalah kemasyarakatan. Bagaimanapun juga, untuk periode sekurang-kurangnya sepuluh tahun ide Bruner tentang "transfer, structure, discovery, and readiness" telah memainkan peranan penting dalam semua proyek pengembangan kurikulum yang dibiayai oleh pemerintah federal Amerika Serikat.
Romantic Radicalism: 1968-1974
Periode ini ditandai oleh berbagai eksperimen dalam usaha mengembangkan "the child-centered schools and programs". Percobaan mengambil tiga bentuk yang berbeda tetapi hampir berkaitan antara satu dengan yang lainnya, yaitu "alternative schools, open classrooms, and elective programs".
"Alternative schools" adalah suatu sekolah yang diselenggarakan untuk menampung anak didik yang karena berbagai alasan tidak dapat mengikuti pelajaran dengan baik di sekolah biasa. Ciri-ciri pendidikan yang dilakukan dalam sekolah semacam ini adalah :
(1) guru melakukan sendiri segala kegiatan pendidikan di sekolah tersebut,
(2) sekolah tidak memiliki kepala sekolah
(3) sekolah tidak memiliki kurikulum yang akan digunakan,
(4) yang bernama guru tidak mutlak harus seseorang yang berpredikat guru, tetapi boleh siapa saja yang mempunyai keahlian untuk membimbing anak tumbuh dewasa,
(5) kegiatan belajar dipilih terutama atas dasar permintaan anak, dan
(6) tempat bernaung kegiatan pendidikan adalah bangunan tempat ibadah atau kantor, sedangkan kegiatan praktek kelasnya dapat dilakukan misalnya di musium, pusat rekreasi, atau sekitar
kampus universitas.
"Open classrooms" adalah merupakan salah satu usaha pengembangan pendidikan yang banyak dipengaruhi oleh pengembangan sekolah dasar di Inggris. Ciri utama sekolah ini adalah mengutamakan pendekatan belajar yang luwes, guru bertindak sebagai fasilitator untuk membantu anak yang memerlukan bantuan belajar.
Banyak kritik yang dilontarkan terhadap sekolah ini, diantaranya Horwitz (1979) dalam hasil risetnya antara lain mengemukakan bahwa pendekatan sekolah tradisional masih lebih bagus daripada "open classrooms".
"Elective programs" adalah program pilihan yang hanya ditawarkan sebagai bagian dari sekolah menengah. Konsep dasar dari program pilihan relatif sederhana yaitu anak diwajibkan memilih salah satu dari berbagai program jangka pendek yang bukan termasuk ke dalam katagori mata pelajaran seperti musik dan olah raga.
Program tersebut, misalnya, adalah "Woman in Literature", "The Romance of Sport", dan "War and Peace".
Dalam periode eksperimentasi ini tercatat Carl Rogers yang mendukung "free schools and open classrooms." Buku yang ditulis oleh Rogers (1969), "Freedom to Learn: A view of what education might become", cukup berpengaruh dikalangan para pendidik. Yang paling menarik adalah Holt (1964) yang dalam pandangannya, guru adalah kurikulum ("the teacher is the curriculum"). Dari perspektif Holt, sekolah tidak memerlukan "scope and squence charts, clearly articulated objectives, or specified learning activities". Tetapi sebaliknya sekolah memerlukan guru yang menawan dan imajiner yang dapat merangsang lingkungan belajar dan yang dapat melibatkan anak didik dalam pengalaman belajar yang berarti bagi kehidupannya.
Privatistic Conservatism: 1975--
Periode ini ditandai dengan gerakan "School effectiveness and School reform", dan "The Critical Thinking Movement". Benyamin Bloom dan John Goodlad dengan caranya masing-masing telah memberikan sumbangan dan pengaruh terhadap penelitian dan praktek pendidikan.
Bloom adalah seorang psikolog dan profesor pendidikan di Universitas Chicago yang pertama kali menyebarkan ide tentang klasifikasi tingkah laku, dan dalam dunia pendidikan dikenal luas dengan nama "Bloom's Taxonomy". Dalam periode ini Bloom (1976) memelopori pengem bangan teori dan riset tentang "mastery learning" yang cukup memberikan pengaruh besar dalam pembaharuan pendidikan. Di Indonesia, "mastery learning" dikenal dengan nama belajar tuntas
yang dikembangkan melalui kurikulum Proyek Perintis Sekolah Pembangunan di sepuluh perguruan tinggi negeri keguruan (IKIP). Banyak para pengikut Bloom dan para ahli kurikulum yang melaksanakan teori"mastery learning".Secara umum, pelaksanaan teori "mastery learning" telah membawa hasil yang positif dalam reformasi sistem pendidikan. Burns (1979) setelah melakukan penelitian terhadap pelaksanaan belajar tuntas menyimpulkan bahwa hasil yang ditunjukan adalah bahwa strategi belajar tuntas memiliki pengaruh kuat terhadap belajar anak
apabila dibandingkan dengan metode pengajaran konvensional.
Goodlad adalah figur lain yang telah banyak memberikan sumbangan besar dalam sejarah kurikulum. Selama lebih dari pada dua puluh lima tahun ia melakukan berbagai penelitian, mengorganisasir pusat-pusat pembaharuan pendidikan, mengajar mahasiswa dalam spesialisasi kurikulum dan pengajaran, dan menerbitkan berbagai buku ilmiah tentang pendidikan dan ratusan artikel yang diterbitkan oleh berbagai jurnal dan majalah pendidikan. Para pendidik banyak yang menerima Goodlad sebagai tokoh kurikulum yang memahami kehidupan sekolah, yang mempunyai pandangan jelas bagaimana seharusnya sekolah, dan yang memiliki berbagai ide yang teruji dengan baik untuk membantu sekolah mencapai tujuannya.
Dari semua bukunya, mungkin yang paling berpengaruh dan bermanfaat adalah "A Place Called School: Prospects for the Future", diterbitkan 1984 beberapa tahun setelah gerakan reformasi pendidikan di Amerika Serikat diumumkan secara luas. Yang membuat karya tersebut termashur adalah pekerjaan besarnya dengan mengadakan penelitian secara sistematis dan mendalam terhadap 1016 kelas, mewawancarai 1350 guru, 8624 orang tua, dan 17163 murid. Banyak rekomendasi yang ia kemukakan, diantaranya ia menyatakan perlunya dibangun sejumlah pusat penelitian dan pengembangan kurikulum dalam berbagai bidang kurikulum sebagai alat untuk menyempurnakan materi dan penyajiannya. Pusat-pusat penelitian tersebut menurut Goodlad hendaknya dilengkapi dengan pusat perencanaan kurikulum yang bertanggung jawab mener jemahkan hasil penelitian ke dalam pedoman-pedoman kurikulum yang dapat dipakai langsung oleh sekolah.
C. Perkembangan Kurikulum di Indonesia
Sejak Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya tanggal 17 Agustus 1945, telah beberapa kali dilakukan pembaharuan kurikulum pendidikan dasar dan menengah. Setidak-tidaknya, menurut Jasin (1987) telah diadakan empat kali pembaharuan kurikulum.
Pembaharuan pertama dilakukan dengan dikeluarkannya Rencana Pelajaran 1947 yang meng gantikan seluruh sistem pendidikan kolonial Belanda. Semangat proklamasi kemerdekaan dan revolusi nasional memberikan pengaruh besar dalam pembaharuan pendidikan setelah masa kolonial berakhir. Dalam konteks sejarah kurikulum umum, Rencana Pelajaran 1947 berada dalam zamannya"developmental conformism" (1941-1956). Zaman tersebut menekankan pendidikan kepada pembentukan karakter manusia.
Pembaharuan kedua terjadi dengan dikeluarkannya Rencana Pendidikan 1964. Pemikiran dan usaha pembaharuan yang mendorong lahirnya rencana tersebut antara lain adalah tentang perlunya Indonesia mengejar ketinggalannya di bidang ilmu pengetahuan khususnya di bidang ilmu-ilmu alam (science) dan matematika.Pemikiran dan usaha tersebut didasari oleh gagasan Bruner (1960). Ia salahseorang tokoh "scholarly structuralism" (1957-1967) dan reformis pendidikan yang mengawali usaha perbaikan program pelajaran science dan matematika dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah di Amerika Serikat.
Pembaharuan ketiga terjadi dengan dikeluarkannya Kurikulum 1968. Pergantian kurikulum tersebut ditandai oleh keadaan politik, yaitu alih orde dari Orde Lama menjadi Orde Baru pada tahun 1966. Keadaan politik pada waktu itu menuntut adanya perubahan radikal pemerintahan Orde Lama dalam segala aspek kehidupan termasuk pendidikan.
Pembaharuan keempat terjadi dengan diterbitkannya Kurikulum 1975/1976/1977. Lahirnya kurikulum tersebut ditandai dengan usaha-usaha yang sistematis dalam penyusunannya. Bahan-bahan masukan yang bersifat empiris telah dijadikan dasar dalam penyusunan kurikulum terse but.
Berkenaan dengan hal di atas Jasin (1987) mengemukakan bahwa bahan-bahan empiris tersebut adalah :
a. Laporan Proyek Penilaian Nasional Pendidikan (PPNP) tentang hasil penelitian (survey) yang mengungkapkan beberapa masalah pendidikan dam saran-saran alternatif pemecahannya. (Laporan Badan Pengembangan Pendidikan, 1971).
b. Uji coba kurikulum melalui Sekolah Laboratorium IKIP Malang selama Pelita I/1969-1974 dan hasil suatu team dari badan Pengembangan Pendidikan yang bertugas menganalisa kurikulum yang berlaku.
c. Seminar identifikasi problema pendidikan pada tahun 1969 yang membahas segala segi dan permasalahan pendidikan seperti tujuan pendidikan, relevansi kurikulum dengan kepentingan anak, metodik, persyaratan guru dan usaha usaha untuk memenuhi persyaratan itu, demokratisasi kurikulum dan evaluasi. (Setiadi, 1969).
Sejak diberlakukannya Kurikulum 1975, berbagai usaha inovatif telah banyak dilakukan dalam rangka menunjang pelaksanaan dan mencari alternatif lain yang dapat digunakan dalam pengembangan kurikulum tersebut, antara lain meneruskan uji coba kurikulum melalui Sekolah Labolatorium di sepuluh IKIP Negeri, uji coba belajar tuntas (mastery learning), penggunaan modul dan sekolah-sekolah terbuka.
Pembaharuan kelima terjadi dengan diterbitkannya Kurikulum Sekolah Menengah Atas 1984, Kurikulum Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama 1975 Yang Disempurnakan, dan Kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan yang disesuaikan dengan kebutuhan kerja dan industri.
Pembaharuan keenam terjadi dengan diterbitkannya Kurikulum Pendidikan Dasar dan Menengah 1994 yang disesuaikan dengan tuntutan dari Undang-Undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional beserta peraturanperaturan pelaksanaannya.
Pembaharuan ketujuh terjadi pada saat Bangsa Indonesia sedang dilanda krisis multidimensi, yaitu dengan dikembangkannya Kurikulum Pendidikan Dasar dan Menengah 2004 yang dikenal sebagai Kurikulum Berbasis Kompetensi. Kurikulum ini disesuaikan dengan tuntutan dari Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional beserta peraturan-peraturan pelaksanaannya.
Pembaharuan kedelapan terjadi setelah terbentuknya Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) pada tahun 2004. Pengembangan kurikulum dilakukan oleh sekolah dengan berpatokan pada Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan yang ditetapkan oleh BSNP. Kurikulum ini selanjutnya dikenal sebagai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
D. Evaluasi Kurikulum
Model evaluasi kurikulum jenisnya cukup banyak, tetapi dari sejumlah teori dapat dikelom pokkan atas dua model yaitu model kuantitatif dan kualitatif (Hasan, 1988). Model kuantitatif merentang dari Model Tyler, model Sistem Alkin, Model Countenance Stake, model CIPP (Context, Input, Process, dan Product), dan model ekonomio mikro. Sebaliknya, menurut Sukmadinata (2004) terdapat empat jenis model yang paling menonjol yaitu model: (1) Discrepancy evaluation Model, yaitu pendekatan yang membandingkan pelaksanaan dengan standar baik disain, pelaksanaan program, biaya dan lain-lain, (2) Contingency Congruence Model, yaitu menilai kesesuaian antara rancangan, pelaksanaan dan hasil ideal dengan yang nyata/teramati, (3) EPIC (Evaluation Programs fot Innovative Curriculum), dan (4) model CIPP (Context, Input, Process, dan Product).
Model yang cukup terbuka dalam mengevaluasi kurikulum yang akan dikembangkan di masa depan adalah model CIPP. Sesuai dengan namanya, model dari 4 jenis evaluasi yaitu evaluasi Context, Input, Process, dan Product yang dikembangkan kali pertama oleh Stufflebeam. Keempat evaluasi ini merupakan suatu rangkaian keutuhan yaitu:
Evaluasi konteks ditujukan untuk menilai kedaan yang sedang dilakukan oleh suatu lembaga pendidikan Evaluasi konteks dilakukan dari keadaan awal sebelum suatu inovasi kurikulum direncanakan, bahkan adalah fungsi dari evaluasi konteks untuk melihat apakah diperlukan adanya suatu inovasi atau tidak. Dalam desentralisasi kurikulum, evaluasi konteks dapat dilakukan oleh pihak sekolah untuk melakukan inovasi kurikulumnya.
Evaluasi input orientasinya untuk mengemukakan suatu program yang dapat mencapai apa yang diinginkan lembaga tersebut. Program yang dimaksudkan adalah program yang membawa perubahan berskala penambahan dan pembaharuan. Evaluasi masukan tidak hanya melihat apa yang ada pada lingkungan lembaga tersebut tetapi juga harus dapat memperkirakan kemungkin an-kemungkinan yang akan dihadapi di waktu mendatang ketika suatu inovasi kurikulum dilak sanakan.
Evaluasi proses adalah evaluasi mengenai pelaksanaan dari suatu inovasi kurikulum. Evaluasi ini baru dapaty dilakukan apabila inovasi kurikulum tersebut telah dilkaksanakan di lapangan bukan pada waktu ia dirancang.
Evaluasi hasil (product) bertujuan untuk menentukan sampai sejauh mana kurikulum yang diimplementasikan tersebut telah dapat memenuhi kebutuhan kelompok yang memper guna kannya. Evaluasi hasil memperlihatkan pengaruh program yang tidak hanya bersifat langsung tapi juga yang berpengaruh tidak langsung. Pengaruh tersebuttidak saja yang bersifat positif tetapi juga pengaruh negarif dari kurikulum tersebut.

RINGKASAN DEFINISI, PERKEMBANGAN DAN EVALUASI KURIKULUM
1.Definisi kurikulum dari beberapa ahli
John Dewey (1902) menegaskan bahwa kurikulum dan anak didik merupakan dua hal yang berbeda tetapi kedua-duanya adalah proses tunggal dalam bidang pendidikan.
Kurikulum merupakan suatu rekonstruksi berkelanjutan yang memaparkan pengalaman belajar anak didik melalui suatu susunan pengetahuan yang terorganisir dengan baik .
Franklin Bobbit (1918) kurikulum adalah susunan pengalaman belajar terarah yang digunakan oleh sekolah untuk membentangkan kemampuan individual anak didik.
Harold Rugg (1927) kurikulum sebagai suatu rangkaian pengalaman yang memiliki kemanfaat an maksimum bagi anak didik dalam mengembangkan kemampuannya agar dapat menyesuaikan dan menghadapi berbagai situasi kehidupan.
Hollins Caswell (1935) kurikulum adalah susunan pengalaman yang digunakan guru sebagai proses dan prosedur untuk membimbing anak didik menuju ke kedewasaan.
Ralph Tyler (1957) kurikulum adalah seluruh pengalaman belajar yang direncanakan dan diarahkan oleh sekolah untuk mencapai tujuan pendidikannya.
Hilda Taba (1962) kurikulum adalah pernyataan tentang tujuan-tujuan pendidikan yang bersifat umum dan khusus, dan materinya dipilih dan diorganisasikan berdasarkan suatu pola tertentu un tuk kepentingan belajar dan mengajar. Biasanya dalam suatu kurikulum sudah termasuk dengan program penilaian hasilnya.
Robert Gagne (1967) kurikulum adalah suatu rangkaian unit materi belajar yang disusun sede mikian rupa sehingga anak didik dapat mempelajarinya berdasarkan kemampuan awal yang dimiliki/dikuasai sebelumnya.
James Popham dan Eva Baker (1970) kurikulum adalah seluruh hasil belajar yang direncana kan dan merupakan tanggung jawab sekolah. Materi kurikulum mengacu kepada tujuan penga jaran yang diinginkan.
Michael Schiro (1978) kurikulum sebagai proses pengembangan anak didik yang diharapkan terjadi dan digunakan dalam perencanaan pengajaran.
Saylor, Alexander, dan Lewis (1981) kurikulum sebagai suatu rencana yang berisi sekumpulan pengalaman belajar untuk anak didik yang akan dididik.

Sedangkan pengertian kurikulum sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah
"seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan
pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan
kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu."
Sebagian pengertian kurikulum ditafsirkan secara luas yang penekanannya mencakup seluruh pengalaman belajar yang diorganisasikan dan dikembangkan dengan baik serta dipersiapkan bagi anak didik untuk mengatasi situasi kehidupan sebenarnya. Sedangkan pengertian lainnya ditafsirkan secara sempit yang hanya menekankan kepada kemanfaatannya bagi guru dalam merencanakan kegiatan belajar mengajar.
Menurut Glatthorn (1987), pengertian kurikulum harus memenuhi dua kriteria yaitu
(1) kurikulum harus mencerminkan pengertian umum tentang peristilahan pendidikan sebagaimana sering digunakan oleh pendidik, dan
(2) kurikulum harus bermanfaat bagi guru dalam membuat perencanaan pengajaranyang baik.
Glatthorn sendiri mengartikan kurikulum adalah rencana yang dibuat untuk membimbing anak belajar di sekolah, disajikan dalam bentuk dokumen yang mudah ditemukan, disusun berdasarkan tingkat-tingkat generalisasi, dapat diaktualisasikan dalam kelas, dapat diamati oleh pihak yang tidak berkepentingan, dan dapat membawa perubahan tingkah laku.
Yang paling menarik dari pendapat Glatthorn adalah bahwa rencana tersebut harus fleksibel agar dapat memungkinkan dilakukan perbaikan seperlunya apabila proses sedang berlangsung.
2. Perkembangan Kurikulum di Indonesia
Sejak Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya tanggal 17 Agustus 1945, telah beberapa kali dilakukan pembaharuan kurikulum pendidikan dasar dan menengah.
Pembaharuan pertama Rencana Pelajaran 1947 menggantikan seluruh sistem pendidikan kolo nial Belanda. Semangat proklamasi kemerdekaan dan revolusi nasional memberikan peng aruh besar dalam pembaharuan pendidikan setelah masa kolonial berakhir. Dalam konteks seja rah kurikulum umum, Rencana Pelajaran 1947 berada dalam zamannya"developmental confor mism" (1941-1956). Zaman tersebut menekankan pendidikan kepada pembentukan karakter manusia.
Pembaharuan kedua Rencana Pendidikan 1964.Pemikiran dan usaha pembaharuan yang men dorong lahirnya rencana tersebut adalah tentang perlunya Indonesia mengejar ketinggalannya di bidang ilmu pengetahuan khususnya di bidang ilmu-ilmu alam (science) dan matematika.Pemi kiran dan usaha tersebut didasari oleh gagasan Bruner (1960), seorang tokoh "scholarly structur alism" (1957-1967) dan reformis pendidikan yang mengawali usaha perbaikan program pelajaran science dan matematika dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah di Amerika Serikat.
Pembaharuan ketiga Kurikulum 1968. Pergantian kurikulum ditandai oleh keadaan politik, yaitu dari Orde Lama menjadi Orde Baru 1966. Keadaan politik pada waktu itu menuntut adanya perubahan radikal pemerintahan Orde Lama dalam segala aspek kehidupan termasuk pendidikan.
Pembaharuan keempat Kurikulum 1975/1976/1977. Lahirnya kurikulum tersebut ditandai dengan usaha-usaha yang sistematis dalam penyusunannya. Bahan-bahan masukan yang bersifat empiris telah dijadikan dasar dalam penyusunan kurikulum terse but. Berkenaan dengan hal di atas Jasin (1987) mengemukakan bahwa bahan-bahan empiris tersebut adalah :
a. Laporan Proyek Penilaian Nasional Pendidikan (PPNP) tentang hasil penelitian (survey) yang mengungkapkan beberapa masalah pendidikan dam saran-saran alternatif pemecahannya. (Laporan Badan Pengembangan Pendidikan, 1971).
b. Uji coba kurikulum melalui Sekolah Laboratorium IKIP Malang 1969-1974 dan hasil suatu team dari badan Pengembangan Pendidikan yang bertugas menganalisa kurikulum yang berlaku.
c. Seminar identifikasi problema pendidikan pada tahun 1969 yang membahas segala segi dan permasalahan pendidikan seperti tujuan pendidikan, relevansi kurikulum dengan kepentingan anak, metodik, persyaratan guru dan usaha usaha untuk memenuhi persyaratan itu, demokratisasi kurikulum dan evaluasi. (Setiadi, 1969).
Sejak diberlakukannya Kurikulum 1975, berbagai usaha inovatif telah banyak dilakukan dalam rangka menunjang pelaksanaan dan mencari alternatif lain yang dapat digunakan dalam pengembangan kurikulum tersebut, antara lain meneruskan uji coba kurikulum melalui Sekolah Labolatorium di sepuluh IKIP Negeri, uji coba belajar tuntas (mastery learning), penggunaan modul dan sekolah-sekolah terbuka.
Pembaharuan kelima terjadi dengan diterbitkannya Kurikulum Sekolah Menengah Atas 1984, Kurikulum Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama 1975 Yang Disempurnakan, dan Kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan yang disesuaikan dengan kebutuhan kerja dan industri.
Pembaharuan keenam Kurikulum Pendidikan Dasar dan Menengah 1994 yang disesuaikan dengan tuntutan dari Undang-Undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional beserta peraturan peraturan pelaksanaannya.
Pembaharuan ketujuh terjadi pada saat Bangsa Indonesia sedang dilanda krisis multidimensi, yaitu Kurikulum Pendidikan Dasar dan Menengah 2004 yang dikenal sebagai Kurikulum Berbasis Kompetensi. Kurikulum ini disesuaikan dengan tuntutan dari Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional beserta peraturan-peraturan pelaksanaannya.
Pembaharuan kedelapan terjadi setelah terbentuknya Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) pada tahun 2004. Pengembangan kurikulum dilakukan oleh sekolah dengan berpatokan pada Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan yang ditetapkan oleh BSNP. Kurikulum ini selanjutnya dikenal sebagai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

3. Evaluasi Kurikulum
Model evaluasi kurikulum jenisnya cukup banyak, tetapi dari sejumlah teori dapat dikelom pokkan atas dua model yaitu model kuantitatif dan kualitatif (Hasan, 1988). Model kuantitatif merentang dari Model Tyler, model Sistem Alkin, Model Countenance Stake, model CIPP (Context, Input, Process, dan Product), dan model ekonomio mikro. Sebaliknya, menurut Sukmadinata (2004) terdapat empat jenis model yang paling menonjol yaitu model: (1) Discrepancy evaluation Model, yaitu pendekatan yang membandingkan pelaksanaan dengan standar baik disain, pelaksanaan program, biaya dan lain-lain, (2) Contingency Congruence Model, yaitu menilai kesesuaian antara rancangan, pelaksanaan dan hasil ideal dengan yang nyata/teramati, (3) EPIC (Evaluation Programs fot Innovative Curriculum), dan (4) model CIPP (Context, Input, Process, dan Product).
Model yang cukup terbuka dalam mengevaluasi kurikulum yang akan dikembangkan di masa depan adalah model CIPP. Sesuai dengan namanya, model dari 4 jenis evaluasi yaitu evaluasi Context, Input, Process, dan Product yang dikembangkan kali pertama oleh Stufflebeam. Keempat evaluasi ini merupakan suatu rangkaian keutuhan yaitu:
Evaluasi konteks ditujukan untuk menilai kedaan yang sedang dilakukan oleh suatu lembaga pendidikan Evaluasi konteks dilakukan dari keadaan awal sebelum suatu inovasi kurikulum direncanakan, bahkan adalah fungsi dari evaluasi konteks untuk melihat apakah diperlukan adanya suatu inovasi atau tidak. Dalam desentralisasi kurikulum, evaluasi konteks dapat dilakukan oleh pihak sekolah untuk melakukan inovasi kurikulumnya.
Evaluasi input orientasinya untuk mengemukakan suatu program yang dapat mencapai apa yang diinginkan lembaga tersebut. Program yang dimaksudkan adalah program yang membawa perubahan berskala penambahan dan pembaharuan. Evaluasi masukan tidak hanya melihat apa yang ada pada lingkungan lembaga tersebut tetapi juga harus dapat memperkirakan kemungkin an-kemungkinan yang akan dihadapi di waktu mendatang ketika suatu inovasi kurikulum dilak sanakan.
Evaluasi proses adalah evaluasi mengenai pelaksanaan dari suatu inovasi kurikulum. Evaluasi ini baru dapaty dilakukan apabila inovasi kurikulum tersebut telah dilkaksanakan di lapangan bukan pada waktu ia dirancang.
Evaluasi hasil (product) bertujuan untuk menentukan sampai sejauh mana kurikulum yang diimplementasikan tersebut telah dapat memenuhi kebutuhan kelompok yang memper guna kannya. Evaluasi hasil memperlihatkan pengaruh program yang tidak hanya bersifat langsung tapi juga yang berpengaruh tidak langsung. Pengaruh tersebut tidak saja yang bersifat positif tetapi juga pengaruh negarif dari kurikulum tersebut.

file dapat download di sini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Mahasiswa Pendidikan Geografi Universitas Negeri Yogyakarta Angkatan 2010

My Writings