Senin, 16 Januari 2012



LAPORAN PRAKTIKUM GEOGRAFI TANAH
  










Disusun oleh:
              Fibo Arseta Pradana      10405241033          


PENDIDIKAN GEOGRAFI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2011


BAB 1

PENDAHULUAN


Geografi merupakan ilmu yang mempelajari aspek sosial maupun aspek fisik dengan menggunakan segala macam obyek formal dan obyek materialnya, dimana dalam obyek formal terdapat pendekatan yang menciri khususkan geografi dari ilmu lain. Didalam geografi terdapat banyak cabang – cabang ilmu, salah satunya adalah geografi tanah. Geografi tanah ialah cabang dari ilmu geografi yang membahas tentang karakteristik dari berbagai jenis tanah dan sebaran dari berbagai jenis tanah yang ada di muka bumi yang dikaitkan dengan faktor – faktor pembentuk tanahnya dalam konteks keruangan.
Di seluruh permukaan bumi terdapat aneka macam tanah, mulai dari yang paling gersang sampai yang paling subur, berwarna putih, merah, coklat, kelabu, hitam, dengan berbagai ragam sifatnya. Untuk mempermudah mengenal masing – masing jenis tanah serta kemampuannya dalam usaha mempelajari dan menggunakan tanah, masing – masing tanah perlu diberi nama untuk mengenal sifat kemampuan jenis tanah tersebut, sehingga mempermudah dalam membandingkan jenis tanah yang satu dengan jenis tanah yang lain. Pemberian nama jenis tanah ini tidak dapat dilakukan secara mudah, harus dengan kriteria tertentu karena nama berfungsi sebagai keterangan sifat kemampuan. Oleh karena itu, kita memerlukan adanya praktikum geografi tanah agar nantinya kita dapat membedakan jenis – jenis tanah yang ada di Indonesia dengan melihat sifat – sifat kemampuan dari masing – masing tanah tersebut. Bukan hanya dengan kita hafal, namun dengan adanya praktikum ini kita dapat mendeskripsikan jenis tanah berdasarkan apa yang telah kita teliti.




BAB 2
DESKRIPSI TEORI


1.      Warna Tanah

Warna tanah merupakan gabungan berbagai warna komponen penyusun tanah, selain itu warna tanah juga merupakan morfologi tanah yang paling nyata dan mudah untuk ditentukan. Meski pengaruhnya sedikit namun, dengan adanya warna tanah seorang peneliti mampu memperoleh keterangan yang banyak dari warna tanah tersebut. Jadi warna tanah dapat menggantikan ciri – ciri penting lainnya yang sukar untuk diamati. Warna tanah dapat juga digunakan sebagaiindikator kondisi iklim tempat tanah berkembang atau asal bahan induknya, tetapi pada kondisi tertentu warna sering pula digunakan sebagai indikator kesuburan atau kapasitas produksi lahan. Warna tanah merupakan pernyataan: (a) jenis dan kadar bahan organik, misalnya: bahan organik banyak maka akan terlihat lebih kehitaman, (b) keadaan drainase dan aerasi tanah dalam hubungan dengan hidratasi, oxidasi dan proses pelindian, misalnya: tanah yang tembus air maka warna tanahnya akan gelap, (c) tingkat perkembangan tanah, misalnya: tanah yang berumur sudah tua maka berwarna gelap sedangkan tanah yang berumur lebih muda berwarna cerah,  (d) kadar air tanah termasuk pula dalamnya permukaan air tanah, misalnya: tanah yang memiliki banyak air berwarna gelap sedangkan tanah yang kering akan berwarna lebih cerah,(e) adanya bahan – bahan tertentu, misalnya besi akan menyebabkan warna merak kekuningan dan gamping akan menyebabkan warna putih.
Hampir tiap profil tanah terdiri atas horison-horison yang berlainan warnanya. Mungkin satu horison ada yang memiliki warna seragam, namun berbeda. Jika pada tanah dijumpai banyak bercak yang merupakan akumulasi senyawa-senyawa besi, Al, atau Mn, maka perlu diamati pula jelas, jumlah dan besarnya. (Isa D, 1997)
Menurut jelas tidaknya becak-becak yang dibedakan atas:
·           k–Kabur(faint): perbedaan warna dasar  (matrix) dan becak tidak jelas.
·           j–jelas(distinct):tampakjelasperbedaanantaradasardanbecak
·           t–tegas(Prominent):becakmerupakanciriyangtegas.
Menurut jumlahnya, dibedakan:
·           s- Sedikit(few):kurangdariduapersenluaspermukaanhorisonprofilyangdiamati.
·           c–Cukup(common):antara2%-20%
·           b–(many):lebihdari20%luaspermukaanhorisonprofil
Menurut besarnya bercak, dibedakan:
·           h–halus(fine):diameterbecak-becakkurangdari15mm
·           s–sedang(medium):diameternya5-15mm
·           k–Kasar(Coarse):diameternyalebihdari15mm(1997:160)
Secarakualitatifwarnatanahpadaumumnyadapatdibedakanatas:
1)        Hitam:untuksemuahueyangber-value/chromaantaraN2sampaidengan2/1.
2)        Kelabu:untuk:
a.semuahueyangber-value/chromaantara3/1-7/1.
b.huedariwarnagleysampaidengan5YRterutamapada5Ydan2 ,5Ydenganvalue/chroma3/2-7/2
c.huedariwarnagley,2,5Y,7,5YR,5YRdenganvalue/chromaantaraN3/-N7/;
3)        Kuning:huegleysampaidengan5YRterutamapada5Ydan2,5YdenganValue/Chromeantara7/3-8/4dan 6/6-8/8
4)        Coklat:hue2,5Ysampaidengan5YRterutama10YRdan7,5YRdenganvalue/chromaantara3/3-6/4dan 5/6-6/8
5)             Merah:hue2,5YRsampaidengan10Rdenganvalue/chroma antara3/2-6/4dan3/6-6/8.
Warna tanah berfungsi sebagai penunjuk dari sifat tanah, karena warna tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terdapat dalam tanah tersebut. Penyebab perbedaan warna tanah umumnya dipengaruhi oleh perbedaan kandungan bahan organik, semakin banyak bahan organik maka warna tanah akan semakin gelap, sedangkan dilapisan bawah, dimana kandungan bahan organiknya rendah warna tanah akan lebih banyak dipengaruhi oleh banyaknya senyawa Fe dalam tanah. Di daerah dengan drainase buruk, yaitu di daerah yang selalu tergenang air, seluruh tanah berwarna abu – abu karena senyawa Fe dalam keadaan reduksi, sedangkan di daerah yang tidak terendam air maka senyawa Fe sedang mengalami masa oksidasi misal dalam senyawa hematit maka tanah akan berwarna merah atau dalam senyawa limonit maka tanah akan berwarna kuning cokelat. Pada tanah yang kadang – kadang basah dan kadang – kadang kering maka selain warna abu – abu didapat pula bercak – bercak karatan merah atau kuning yaitu di tempat – tempat dimana udara masuk, sehingga terjadi oksidasi besi di tempat tersebut (Hardjowigeno, 1992).
Warna tanah merupakan indikator dari bahan induk untuk tanah yang baru berkembang, indikator kondisi iklim untuk tanah yang sudah berkembang lanjut dan indikator kesuburan tanah atau kapasitas produktivitas lahan (Hanafiah, 2005)
Warna tanah sangat ditentukan dengan membandingkan warna tanah tersebut dengan warna standar pada buku Munsell Soil Color Chart. Diagram warna baku ini disusun dari tiga variabel yaitu Hue adalah warna spektrum yang dominan sesuai dengan panjang gelombangnya, Value adalah penunjuk gelap atau terangnya warna sesuai dengan banyaknya sinar yang dipantulkan dan Chroma adalah gradasi kemurnian dari warna atau derajat pembeda adanya perubahan warna dari kelabu atau putih netra (0) ke warna lainnya.

2.      Tekstur Tanah

Tekstur tanah adalah keadaan tingkat kehalusan tanah yang terjadi karena terdapatnya perbedaan komposisi kandungan fraksi pasir, debu dan liat yang terkandung pada tanah (Badan Pertanahan Nasional). Dari penggolongan menurut USDA ketiga jenis fraksi tersebut partikel pasir mempunyai ukuran diameter paling besar yaitu 2-0,05 mm, debu dengan ukuran 0,05-0.002 mm dan liat dengan ukuran <0.002 mm. Keadaan tekstur tanah sangat berpengaruh terhadap keadaan sifat-sifat tanah yang lain seperti struktur tanah, permeabilitas tanah, porositas dan lain-lain.
Tekstur tanah menjadi penunjuk kasar halusnya tanah. Tekstur merupakan perbandingan antara butir – butir pasir, debu dan liat (Hardjowigeno, 1992).
Tekstur tanah adalah perbandingan relatif tiga golongan besar partikel tanah dalam suatu massa tanah, terutama perbandingan antara fraksi – fraksi lempung, debu dan pasir (Isa D, 1997)
            Terdapat dua klasifikasi tanah yang dikenal para ahli :
a.         Sistem yang dikemukakan oleh Atterberg atau dikenal dengan nama sistem internasional.
b.        Sistem USDA yang digunakan di seluruh dunia.
Susunan fraksi tanah kedua sistem tersebut tersusun dalam tabel dibawah ini:



Tabel.KriteriaFraksiTanah
No
Sistem USDA
Sistem internasional
Nama fraksi
Diameter (mm)
Nama fraksi
Diameter (mm)
1.
Lempung
<0,002
lempung
<0,002
2.
Debu
0,002-0,05
debu
0,002-0,02
3.
Pasir sangat halus
0,05-0,10


4.
Pasir halus
0,10-0,25
Pasir halus
0,02-0,20
5.
Pasir sedang
0,25-0,5


6.
Pasir kasar
0,5-1,0
Pasir kasar
0,20-2,0
7.
Pasir sangat kasar
1,0-2,0


8.
Kerikil
>2,0
Kerikil
>2,0

Tekstur tanah didefinisikan sebagai perbandingan relatif berbagai golongan besar partikel tanah dalam suatu massa tanah, ada penggolongan terhadap partikel – partikel tanah yaitu:
·         Fraksi pasir: diameternya antara 2mm-0,05mm (200μ-50μ), memiliki ciri terasa kasar jika dipegang, berbutir, tidak lengket, tidak bias dibentuk bola atau gulungan, pengalirkan air (porous/permeable)
·         Fraksi debu: diameternya antara 0,05mm-0,002mm (50μ-2μ), terasa tidak kasar, masih terasa berbutir, agak melekat, dapat dibentuk bola atau tegak.
·         Fraksi lempung: diameternya <0,002mm (<2μ), terasa berat, halus, sangat lekat, dapat dibentuk bola dengan baik, mudah digulung, jika dibentuk pita panjang mencapai 5 cm atau lebih, agak sulit menyerapkan air (tidak porous /impermeable).
Pembatasan ketiga fraksi tanah diatas dapat digambarkan dalam segitiga tekstur. Segitiga tekstur merupakan suatu diagram untuk menentukan kelas sifat tekstur tanah, seperti yang terlihat disamping ini:

Tekstur tanah di lapangan dapat dibedakan dengan cara manual yaitu dengan memijit tanah basah diantara jari jempol dengan jari telunjuk, sambil dirasakan halus kasarnya yang meliputi rasa keberadaan butir – butir pasir, debu dan liat, dengan cara dibawah ini:
1)             Apabila rasa kasar terasa sangat jelas, tidak melekat dan tidak dapat dibentuk bola dan gulungan, maka tanah tersebut tergolong bertekstur pasir
2)             Apabila rasa kasar terasa jelas, sedikit sekali melekat dan dapat dibentuk bola tetapi masih mudah hancur, maka tanah tersebut tergolong bertekstur pasir berlempung.
·           Apabila rasa kasar agak jelas, agak melekat dan dapat dibuat bola tetapi mudah hancur maka tanah tersebut bertekstur lempung berpasir
·           Apabila tidak terasa kasar dan tidak licin, agak melekat, dapat dibentuk bola agak teguh dan dapat sedikit dibuat gulungan dengan permukaan mengkilat maka tanah tersebut bertekstur lempung
·           Apabila terasa licin, agak melekat, dapat dibentuk bola agak teguh dan gulungan dengan permukaan mengkilat maka tanah tersebut bertekstur lempung berdebu
·           Apabila terasa licin sekali, agak melekat, dapat dibentuk bola teguh dan dapat digulung dengan permukaan mengkilat maka tanah tersebut bertekstur debu
·           Apabila terasa agak licin, agak melekat dan dapat dibentuk bola agak teguh dan dapat dibentuk gulungan yang akan mudah hancur maka tanah tersbut bertekstur lempung berliat
·           Apabila terasa halus dengan sedikit agian agak kasar, agak melekat dan dapat dibentuk bola agak teguh, dibentuk gulungan mudah hancur maka tanah tersebut bertekstur lempung liat berpasir
·           Apabila terasa halus, terasa agak licin, melekat, dapat dibentuk bola teguh dan dapat dibentuk gulungan dengan permukaan mengkilat maka tanah tersebut bertekstur lempung liat berdebu
·           Apabila terasa halus, berat, sedikit kasar, melekat, dapat dibentuk bola teguh dan mudah dibuat gulungan maka tanah tersebut bertekstur liat berpasir
·           Apabila terasa halus, berat, agak licin, sangat lekat, dapat dibentuk bola teguh, dapat dibuat gulungan maka tanah tersebut bertekstur liat berdebu
·           Apabila terasa berat, halus, sangat lekat, dapat dibentuk bola dengan baik dan mudah dibuat gulungan maka tanah tersebut bertekstur liat
Tekstur tanah merupakan satu – satunya sifat fisik tanah yang tetap dan tidak mudah diubah oleh tangan manusia jika tidak ditambah dari tempat lain. Erosi dapat menyebabkan berubahnya tekstur karena terkikisnya lapisan permukaan.

3.        Struktur Tanah

Struktur tanah adalah susunan saling mengikat antar partikel – partikel tanah. Ikatan partikel tanah itu berwujud sebagai agregat tanah yang membentuk dirinya. Agregat tanah ini dinamakan ped. Gumpalan tanah yang berbentuk sebagai akibat penggarapan tanah (clod) atau yang terbentuk karena sebab lain dari luar (fragmen) atau yang terbentuk karena akumulasi lokal senyawa – senyawa yang mengikat partikel tanah (konkresi) tidak termasuk apa yang dinamakan agregat tanah (Isa D, 1997).
Sruktur tanah merupakan gumpalan-gumpalan kecil dari butiran-butiran tanah. Gumpalan ini terjadi karena butir-butir pasir, debu dan liat terikat satu sama lain oleh perekat seperti : bahan organic, oksida besi dll. Gumpalan – gumpalan kecil ini mempunyai bentuk, ukuran dan kemantapan yang berbeda – beda.
Struktur tanah dikelompokkan dalam 6 bentuk. Keenam bentuk tersebut adalah:
·           Granular yaitu struktur tanah yang berbentuk granul, bulat dan porous. Struktur ini terdapat di horison A.
·           Gumpal (blocky) yaitu struktur tanah yang berbentuk gumpal membulat dan gumpal bersudut, bentuknyamenyerupai kubus dengan sudut – sudut membulat untuk gumpal membulat dan bersudut tajam untuk gumpal bersudut, dengan sumbu horisontal setara dengan sumbu vertikal. Struktur ini terdapat di horison B pada tanah iklim basah.
·           Prisma (prismatik) yaitu struktur tanah dengan sumbu vertikal lebih besar dari sumbu horisontal dengan bagian atasnya rata. Struktur ini terdapat di horison B pada tanah iklim kering.
·           Tiang (columnar) yaitu struktur tanah dengan sumbu vertikal lebih besar daripada sumbu horisontal dengan bagian atasnya membulat. Struktur ini ada di horison B pada tanah kering.
·           Lempeng (platy) yaitu struktur tanah dengan sumbu vertikal lebih kecil daripada sumbu horisontal. Struktur ini ada di horison A2 atau pada lapisan padas liat.
·           Remah (single grain) yaitu struktur tanah dengan bentuk bulat dan sangat porous, struktur ini ada di horison A.
Struktur tanah sangat memengaruhi sifat dan keadaan tanah, seperti antara lain gerakan air, lalu lintas panas, aerasi. Oleh karena itu tata air, pernafasan akar tanaman dan penetrasi akar tanaman banyak ditentukan oleh struktur tanah. Sehingga, akan sulit untuk mengamati struktur tanah pada lahan garapan. Struktur tanah bersama dengan tekstur tanah menentukan pula drainase tanah. Horison yang pejal mempunyai drainase yang sangat buruk, horison semacam  ini dapat dipecahkan menjadi fragmen bukan ped. Subsoil yang mempunyai struktur semacam ini sebaiknya digunakan untuk jalan air, irigasi ataupun bendungan air.

4.      Konsistensi tanah

Konsistensi tanah menunjukkan integrasi antara kekuatan daya kohesi butir-butir tanah dengan daya adhesi butir-butir tanah dengan benda lain (Hardjowigeno, 1992).
Konsistensi tanah adalah derajat kohesi dan adhesi di antara partikel – partikel tanah dan ketahanan massa tanah terhadap perubahan bentuk oleh tekanan dan berbagai kekuatan yang mempengaruhi bentuk tanah ( Isa D, 1997)
Macam – macam Konsistensi Tanah
a.         Konsistensi Basah
1)   Tingkat Kelekatan, yaitu menyatakan tingkat kekuatan daya adhesi antara butir-butir tanah dengan benda lain, ini dibagi 3 kategori:.
(1) Agak Lekat yaitu dicirikan sedikit melekat pada jari tangan atau benda lain.
(2) Lekat yaitu dicirikan melekat pada jari tangan atau benda lain.
(3) Sangat Lekat yaitu dicirikan sangat melekat pada jari tangan atau benda lain.
2)   Tingkat Plastisitas (keliatan), yaitu menunjukkan kemampuan tanah membentuk gulungan, ini dibagi 4 kategori berikut:
(1) Tidak Plastis yaitu dicirikan tidak dapat membentuk gulungan tanah.
(2) Agak Plastis yaitu dicirikan dapat membentuk gulungan – gulungan kecil yang mudah diubah bentuknya.
(3) Plastis yaitu dicirikan dapat membentuk gulungan tanah kecil dan diperlukan sedikit tekanan untuk merusak gulungan tersebut.
(4) Sangat Plastis yaitu dicirikan dapat membentuk gulungan tanah kecil dan hanya dapat diubah bentuknya dengan pijatan kuat.




b.    Konsistensi Lembab
Pada kondisi kadar air tanah sekitar kapasitas lapang, konsistensi dibagi 6 kategori sebagai berikut:
(1) Lepas yaitu dicirikan tanah tidak melekat satu sama lain atau antar butir tanah mudah terpisah (contoh: tanah bertekstur pasir).
(2) Sangat Gembur yaitu dicirikan gumpalan tanah mudah sekali hancur bila diremas.
(3) Gembur yaitu dicirikan dengan hanya sedikit tekanan saat meremas dapat menghancurkan gumpalan tanah.
(4) Teguh yaitu dicirikan dengan diperlukan tekanan agak kuat saat meremas tanah tersebut agar dapat menghancurkan gumpalan tanah.
(5) Sangat Teguh yaitu dicirikan dengan diperlukannya tekanan berkali-kali saat meremas tanah agar dapat menghancurkan gumpalan tanah tersebut.
(6) Sangat Teguh Sekali yaitu dicirikan dengan tidak hancurnya gumpalan tanah meskipun sudah ditekan berkali-kali saat meremas tanah dan bahkan diperlukan alat bantu agar dapat menghancurkan gumpalan tanah tersebut.

c.    Konsistensi Kering
Penetapan konsistensi tanah pada kondisi kadar air tanah kering udara, ini dibagi 6 kategori sebagai berikut:
(1) Lepas yaitu dicirikan butir-butir tanah mudah dipisah-pisah atau tanah tidak melekat satu sama lain (misalnya tanah bertekstur pasir).
(2) Lunak yaitu dicirikan gumpalan tanah mudah hancur bila diremas atau tanah berkohesi lemah dan rapuh, sehingga jika ditekan sedikit saja akan mudah hancur.
(3) Agar Keras yaitu dicirikan gumpalan tanah baru akan hancur jika diberi tekanan pada remasan atau jika hanya mendapat tekanan jari-jari tangan saja belum mampu menghancurkan gumpalan tanah.
(4) Keras yaitu dicirikan dengan makin susah untuk menekan gumpalan tanah dan makin sulitnya gumpalan untuk hancur atau makin diperlukannya tekanan yang lebih kuat untuk dapat menghancurkan gumpalan tanah.
(5) Sangat Keras yaitu dicirikan dengan diperlukan tekanan yang lebih kuat lagi untuk dapat menghancurkan gumpalan tanah atau gumpalan tanah makin sangat sulit ditekan dan sangat sulit untuk hancur.
(6) Luar Biasa Keras yaitu dicirikan dengan diperlukannya tekanan yang sangat besar sekali agar dapat menghancurkan gumpalan tanah atau gumpalan tanah baru bisa hancur dengan menggunakan alat bantu (pemukul).

5.      PH Tanah

Penentuan pH diperlukan untuk menaksir lanjut tidaknya perkembangan tanah juga diperlukan dalam penggunaan tanahnya, terutama untuk tanah pertanian.
 Pada umumnya tanah yang telah berkembang lanjut dalam daerah iklim basah mempunyai pH yang rendah, makin lanjut umurnya makin asam. Sebaliknya tanah didaerah kering, penguapan yang terjadi menyebabkan tertimbunnya unsur – unsur basa dipermukaan tanah karena besarnya evaporasi dibandingkan dengan presipitasi, sehingga makin lanjut tanah makin tinggi pH-nya. Akan tetapi pada umunya di daerah kering (arid) jarang ditemukan tanah yang senantiasa tetap pada tempatnya, mengingat angin yang senatiasa bertiup sebagai akibat perubahan iklim yang besar. Selain itu pertumbuhan tanaman sangat dipengaruhi oleh pH tanah, namun tidak semua jenis tanaman mampu dipengaruhi oleh pH.
Pengamatan pH tanah dapat dikerjakan secara elektrimetrik dan kolorimetrik, baik di laboratorium maupun di lapangan. Elektrometrik ditentukan antara lain dengan pH meter Beckman, sedang kolorimetrik dapat dikerjakan dengan kertas pH, pasta pH, dan larutan pH universal. Secara lebih terperinci pH tanah dapat diukur menggunakan larutan – larutan indikator seperti:
·      Bromkresol untuk pH antara 3,8 – 5,6
·      Khlorphenol merah untuk pH antara 5,2 – 6,8
·      Bromthinol biru untuk pH antara 6,0 – 6,8
·      Phenol merah untuk pH antara 6,8 – 8,4
·      Kresol merah untuk pH antara 7,2 – 8,8
·      Thimol biru untuk pH antara 8,0 – 9,5

6.      Perakaran

Pengamatan tentang akar – akar tanaman dalam hubungannya dengan morfologi tanah diperlukan sebagai dasar peramalan cocok tidaknya jenis tanaman terhadap jenis tanah dan dalamnya akar tanaman dapat menembus tanah. Banyaknya akar tergantung pada adanya air, udara dan zat hara tanaman dalam horison tanah. Horison – horison tersebut tidak dapat ditembus oleh tanah.
Sebagian besar akar tanaman terdapat dalam horison tanah paling atas, umumnya akar rumput – rumputan hampir seluruhnya terdapat dangkal di permukaan tanah, makin dalam maka jumlah akar juga akan berkurang. Akar tanaman mempunyai hubungan yang penting dengan struktur tanah. Akar yang mati meninggalkan zat hara untuk jasad – jasad renik yang berfungsi penting dalam mempertahankan struktur tanah yang baik.
Umumnya pengamatan perakaran dalam profil tanah berupa membandingkan jumlah akar yang ada dalam satu horison dengan luas horison tersebut yang nampak dalam profil tanah. Pengamatan ini biasanya disertai dengan pengamatan kadar bahan organik berupa humus. Kadar bahan organik yang diwujudkan dengan warna kelam dan dalamnya penyebaran bahan organik sangat tergantung pada jenis vegetasi yang tumbuh diatasnya.
Berdasarkan hal tersebut, maka perakaran akan dibagi menjadi dua, yaitu:
·         Berdasarkan banyaknya
1)    Banyak sekali (hampir seluruh horison dipenuhi oleh akar)
2)    Banyak (banyaknya akar lebih dari sepertiga luas horison)
3)    Sedang (akar menjalar disana - sini dan masih nyata tampak)
4)    Sedikit (akarnya hanya ada sedikit)
5)    Tanpa (tak ada akar sama sekali)
·         Berdasarkan besarnya
1)    Besar (biasanya akar tunggang pohon berkayu)
2)    Sedang (akar – akar pohon lainnya)
3)    Kecil (akar serabut, akar rambut atau akar rumput – rumputan)

7.      Kandungan kapur

Kandungan kapur sangat berhubungan dengan keberadaan kalsium dan magnesium tanah. Tanah yang memiliki kandungan kapur yang tinggi, belum tentu tanah tersebut juga memiliki tingkat kesuburan yang tinggi, bisa juga suatu kapur itu menjadi racun karena kapur akan menyerap unsur hara dari dalam tanah, dimana unsur hara tersebut dibutuhkan tanaman untuk pertumbuhannya. Kadar kapur tertinggi sampai terendah adalah tanah alfisol, entisol, vertisol, rendzina, dan ultisol.
Kandungan kapur dari setiap jenis tanah berbeda-beda. Bahkan kandungan kapur dari lapisan atas tentu berbeda dengan lapisan di bawahnya. Hal ini disebabkan oleh adanya proses pelindian kapur pada lapisan atas oleh air yang akan diendapkan pada lapisan bawahnya. Selain itu keberadaan kapur tanah sangat dipengaruhi oleh batuan induk yang ada disuatu lokasi.

8.      Kandungan Mn

Berbagai bentuk mangan dapat dijumpai di dalam tanah, namun paling banyak diserap adalah ion mangan. Mangan terlibat dalam proses katalitik pada tumbuhan, sebagai aktivator beberapa enzim respirasi, dalam reaksi metabolisme nitrogen dan fotosintesis.
Peran mangan dalam fotosintesis adalah dalam urutan reaksi yang berkaitan dengan pelepasan elektron dari air dalam pemecahannya menjadi hidrogen dan oksigen.



9.      Kandungan Bahan Organik

Dalam suatu tanah, kadar bahan organik diwujudkan dengan warna kelam dan dalamnya penyebaran bahan organik sangat tergantung pada jenis vegetasi yang tumbuh diatasnya. Semakin banyak kandungan bahan organiknya maka tanah akan menjadi lebih gelap. Sebaliknya jika dalam suatu tanah kandungan bahan organiknya tidak terlalu banyak maka tanah akan terlihat lebih cerah. Kandungan bahan organik sendiri sangat bermanfaat bagi perkembangan tanah.














 

BAB 3
LANGKAH KERJA


1.      Alat dan Bahan

a.       Tanah
b.      Kertas HVS
c.       HCL 10%
d.      Air
e.       Box lakmus dan stick lakmus
f.       H2O2 10%
g.      Mn 0,3%
h.      Pipet

2.      Cara kerja

a.         Menentukan warna tanah
·           Ambil sampel tanah
·           Amati warna tanah sesuai dengan penglihatan
·           Letakkan sampel tanah pada warna yang paling mendekati (paling mirip) di buku munsell soil color charts
·           Tulis warna tanah dengan kode seperti yang terdapat pada buku munsell soil color charts
b.         Menentukan tekstur tanah
Ø   Secara kualitatif
·           Ambil sampel tanah
·           Beri sedikit air pada sampel tanah tersebut
·           Pilin sampel tanah tersebut dengan telunjuk dan ibu jari
·           Rasakan tingkat kekasaran dari tanah tersebut
Ø   Secara kuantitatif
·           Ambil sampel tanah
·           Oven sampel tanah sampai kering
·           Timbang sampel tanah yang sudah kering
·           Ayak sampel tanah dengan menggunakan ayakan tanah
·           Timbang hasil ayakan yang berupa pasir, debu, dan lempung
·           Bandingkan persentase ketiga fraksi tersebut
·           Masukkan persentase ke seditiga tekstur tanah
·           Catat hasil pengamatan
c.         Menentukan struktur tanah
·           Ambil sampel tanah
·           Amati bentuk susunan dari sampel tersebut
·           Tentukan bentuk susunan sampel tanah tersebut sesuai dengan pengamatan
·           Catat hasil pengamatan
d.        Menentukan konsistensi tanah
·           Ambil sampel tanah
·           Beri sedikit air pada sampel tersebut
·           Pilinlah sampel tanah tersebut untuk mengetahui tingkat kelekatan tanah
·           Catat tingkat kelekatan yang telah diketahui
·           Buat gilingan pada sampel tanah
·           Tekan gilingan tersebut dengan jari
·           Tentukan tingkat keliatan dari sampel tanah tersebut
·           Catat hasil pengamatan
e.         Menentukan pH tanah
·         Ambil sampel tanah
·         Masukkan sedikit sampel tanah ke tabung reaksi
·         Berilah air sehingga ketinggiannya dua kali ketinggian tanah
·         Kocok tabung reaksi tersebut hingga tanah larut dalam air
·         Celupkan stik lakmus ke dalam tabung reaksi
·         Bandingkan warna stik lakmus dengan box lakmus
·         Catat hasil pengamatan
f.          Menentukan perakaran
·         Ambil sampel tanah
·         Amati jumlah akar yang ada dalam sampel tanah tersebut
·         Catat hasil pengamatan
g.         Menentukan kandungan kapur
·         Ambil sampel tanah
·         Teteskan sedikit HCL 10% ke sampel tanah
·         Lihat seberapa banyak buihnya
·         Catat hasil pengamatan
h.         Menentukan kandungan Mn
·         Ambil sampel tanah
·         Teteskan Mn 0,3% ke sampel tanah
·         Lihat buihnya
·         Catat hasil pengamatan
i.           Menentukan kandungan bahan organik
·         Ambil sampel tanah
·         Teteskan H2O2 10% ke sampel tanah
·         Lihat buihnya
·         Catat hasil pengamatan













BAB 4
PEMBAHASAN


PRAKTIKUM  1

No
Pengamatan
Hasil pengamatan
1.
Bahan induk
Alluvium
2.
Warna
Coklat
Warna coklat banyak mengandung oksidbesi yang telah tercampur oleh bahan organik
3.
Tekstur
Lempung berpasir
karena tanahnya halus namun sedikit bagian agak kasar, agak melekat, dapat dibentuk bola agak teguh namun jika dibentuk gulungan mudah hancur
4.
Struktur
Gumpal membulat
Karena bentuk sudut – sudut tanahnya membulat dan hampir menyerupai kubus
5.
Konsistensi
·           Basah:
sangat lekat: tanah sulit dilepaskan dari jari atau benda lain
agak liat: tanah dapat dibentuk gulungan – gulungan kecil
·           Lembab:
Gembur: dengan sedikit tekanan saat meremas tanah dapat menghancurkan gumpalan tanah
·         Kering : Agak keras
6.
Ph
5
pH 5 menunjukkan bahwa tanah bersifat asam
7.
Kandungan kapur
Rendah
8.
Kandungan Mn
Sedikit
9.
Kandungan bahan organik dan perakaran
Bahan organik: sedikit
Perakaran: sedikit


PRAKTIKUM 2

No
Pengamatan
Hasil Pengamatan
1.
Bahan induk
Batuan breksi tuff
2.
Warna
Coklat kemerahan
Warna
3.
Tekstur
Halus sedikit kasar
Karena tanahnya jika dipegang sedikit kasar dan halus, agak melekat, dapat dibentuk bola agak teguh, dan dapat dibuat gulungan
4.
Struktur
Gumpal bersudut
Karena bentuk sudut – sudut tanahnya membulat dan hampir menyerupai kubus
5.
Konsistensi
·            Lembab
gembur: cukup dengan sedikit penekanan untuk dapat menghancurlan gum[alan tanah tersebut
·           Basah
agak lekat: tanah ketika di pilin ada sedikit yang melekat pada jari
 liat: tanah dapat dibentuk gulungan – gulungan kecil
6.
pH
4
pH 4 menunjukkan bahwa tanah bersifat asam
7.
Kandungan kapur
Sangat sedikit
8.
Kandungan Mn
Rendah
9.
Kandungan bahan organik dan perakaran
Bahan organik: banyak
Perakaran: sedikit




PRAKTIKUM 3

No
Pengamatan
Hasil pengamatan
1.
Bahan induk
Batu gamping
2.
Warna
Coklat
Warna pada tanah ini mengandung oksidbesi yang telah tercampur dengan bahan organik
3
Tekstur
Lempung berpasir
karena tanahnya halus namun sedikit bagian agak kasar, agak melekat, dapat dibentuk bola agak teguh namun jika dibentuk gulungan mudah hancur
4.
Struktur
Gumpal bersudut
Karena bentuk sudut – sudut tanahnya membulat dan hampir menyerupai kubus
5.
Konsistensi
·           Basah
agak lekat: tanah ketika dipilin ada sedikit yang melekat di tangan
liat: tanah mampu membentuk gulungan – gulungan dan dengan sedikit tekanan baru dapat merusak gulungan tersebut
·           Lembab
Gembur: dengan sedikit tekanan saat meremas dapat menghancurkan gumpalan tanah
·           Kering
Keras: susah untuk menekan gumpalan tanah dan makin sulitnya gumpalan untuk hancur atau makin diperlukannya tekanan yang kuat untuk menghancurkan gumpalan tanah
6.
pH
7
7.
Kandungan kapur
Banyak
8.
Kandungan Mn
Rendah
9.
Kandungan bahan organik dan perakaran
Bahan organik: banyak
Perakaran: banyak

PRAKTIKUM 4

No
Pengamatan
Hasil pengamatan
1.
Bahan induk
Andhesit tua
2.
Warna
Coklat kehitaman
Warna pada tanah ini mengandung oksidbesi yang telah tercampur dengan bahan organik dan bersifat basah
3.
Tekstur
Lempung berpasir
Karena jika tanah di pegang rasa kasar terasa agak jelas, agak melekat dan dapat dibuat bola tetapi mudah hancur
4.
Struktur
Gumpal membulat

5.
Konsistensi
·           Basah
Sangat Lekat: tanah yang sudah di pilin melekat pada jari
 Liat: tanah yang ada dapat membentuk gulungan – gulungan kecil
·           Lembab
sangat gembur: tanah yang sudah dibentuk gulungan kecil dapat mudah hancur meskipun dengan tekanan sangat kecil
6.
pH
5
pH 5 menunjukkan bahwa tanah bersifat asam
7.
Kandungan kapur
Tidak ada
8.
Kandungan Mn
Tidak ada
9.
Kandungan bahan organik dan perakaran
Bahan organik: banyak
Perakaran: tidak ada





PRAKTIKUM 5

No
Pengamatan
Hasil pengamatan
1.
Bahan induk
Batuan vulkanik tua
2.
Warna
Coklat muda
Warna pada tanah ini mengandung oksidbesi yang telah tercampur dengan bahan organik dan terletak di drainase yang buruk
3.
Tekstur
Berpasir
Rasa kasar tersa sangat jelas, tidak melekat dan tidak dapat dibentuk bola atau gulungan
4.
Struktur
Gumpal membulat
5.
Konsistensi
·           Basah:
Lekat: tanah yang sudah dipilin melekat pada jari tangan atau benda lain
Liat: tanah dapat membentuk gulungan dan untuk menghancurkan gulungan tanah tersebut diperlukan sedikit tekanan
·           Kering:
Keras: untuk menghancurkan gumpalan tanah diperlukan tekanan yang lebih kuat
·           Lembab:
gemburgumpalan tanah mudah hancur
6.
pH
4
pH 5 menunjukkan bahwa tanah bersifat asam
7.
Kandungan kapur
tidak ada
8.
Kandungan Mn
tidak ada
9.
Kandungan bahan organik dan perakaran
Bahan organik: sedikit
Perakaran: sedikit


PRAKTIKUM 6

No
Pengamatan
Hasil pengamatan
1.
Bahan induk
Batuan vulkanik muda
2.
Warna
Coklat kahitaman
disebabkan oleh kuarsa, kaolin, dan mineral lempung, karbonat Ca dan Mg, gibs serta macam garam serta senyawa ferro. Tanah yang kelabu menandakan  gejala gleisasi dimana Fe terbentuk ferro.
3.
Tekstur
Agak kasar
Terasa licin sekali, agak melekat, dapat dibentuk bola teguh dan dapat di gulung dengan permukaan mengkilat
4.
Struktur
Gumpal membulat

5.
Konsistensi
·           Kering:
Lepas: butir – butir tanah yang ada mudah dipisah – pisah atau tidak melekat satu sama lain
·           Basah:
agak lekat: ketika tanah sudah dipilin tidak ada yang melekat di jari tangan atau benda lain
agak liat: tanah ini tidak dapat membentuk gulungan – gulungan tanah
·           Lembab:
Lepas: antara butir yang satu dengan butir yang lain mudah dipisahkan
6.
pH
6
pH 6 menunjukkan bahwa tanahnya bersifat asam
7.
Kandungan kapur
Sedikit
8.
Kandungan Mn
Tidak ada
9.
Kandungan bahan organik dan perakaran
Bahan organik: sedikit
Perakaran: tidak ada

BAB 5
KESIMPULAN


1.      Praktikum pertama

Pada praktikum ditemukan bahwa jenis tanah yang telah di teliti merupakan jenis tanah alluvial. Jenis tanah alluvial ini hanya meliputi lahan yang sering atau baru saja mengalami banjir, sehingga dianggap masih muda dan belum ada deferensiasi horison. Pembentukan tanah alluvial ini akan mengendapkan material yang kasar tidak jauh dari sumbernya, dan semakin jauh dari sumber material yang diendapkan juga akan semakin halus.
Sifat tanah alluvial sangat dipengaruhi langsung olleh sumber bahan asal sehingga kesuburannya pun ditentukan sifat bahan asalnya, contoh:tanah yang ada di sungai opak, karena berasal dari gunung merapi yang masih muda dan kaya akan unsur- unsur hara pada umumnya subur. Kebanyakan tanah alluvial sepanjang aliran besar merupakan campuran yang mengandung cukup banyak hara tanaman, sehingga bersifat subur.

2.      Praktikum kedua

Pada praktikum ini ditemukan bahwa jenis tanah latosol. Tanah latosol adalah jenis tanah yangtelah mengalami pelapukan intensif dan perkembangan tanah lanjut, sehingga terjadi pelindian unsur – unsur basa, bahan organik dan silika.
Latosol terbentuk di daerah beriklim humid – tropika tanpa bulan kering sampai subhumid yang bermusim kemarau agak lama, bervegetasi hutan basah sampai savana, bertopografi dataran, bergelombang sampai berbukit dengan bahan induk hampir semua macam batuan.

3.      Praktikum ketiga

Pada praktikum ini ditemukan bahwa jenis tanahnya adalah tanah mediteran. Tanah ini terbentuk dari pelapukan batuan kapur dan bersifat tidak subur. Tanah mediteran yang berbahan induk batu kapur memiliki nilai pH yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang berbahan induk batu pasir. Ketersediaan air di tanah mediteran ini sangat kurang selain itu pHnya melebihi 7 sehingga tidak cocok untuk daerah pertanian. Tanah ini akan cocok untuk bahan bangunan, bahan kapur yang kokoh dan berguna bagi fondasi suatu bangunan.

4.      Praktikum keempat

Pada praktikum ini ditemukan bahwa jenis tanahnya adalah tanah regosol. Tanah regosol ini umunya belum jelas membentuk diferensiasi horison, meskipun pada tanah regosol tua horison sudah mulai terbentuk. Tekstur tanah biasanya kasar, strukturnya lemah, konsistensi lepas sampai gembur dengan pH 6 – 7. Makin tua umur tanah struktur dan konsistensi semakin padat, bahkan seringkali membentuk padas dengan drainase dan porositas yag terhambat. Tanah ini belum membentuk agregat, sehingga peka terhadap erosi.

5.      Praktikum kelima

Jenis tanah pada praktikum kelima ini adalah tanah grumusol. Tanah grumusol ini berarti tanah lempung yang berwarna kelam dan bersifat fisik berat, umunya terbentuk pada tempat – tempat yang tingginya tidak lebih dari 300 meter di atas permukaan laut dengan topografi agak bergelombang sampai berbukit. Warna tanah untuk jenis tanah ini sangat dipengaruhi oleh jumlah humus dan kadar kapurnya. Sifat fisik tanah grumusol yang sangat berat menyebabkan jenis tanah ini sangat peka terhadap erosi dan bahaya longsoran.

6.      Praktikum keenam

Jenis tanah untuk praktikum keenam adalah tanah litosol, dimana jenis tanah ini merupakan jenis tanah yang paling muda, sehingga bahan induknya kadangkala dangkal (kurang dari 45cm). Profil tanahnya belum memperlihatkan horison – horison dengan sifat – sifat dan ciri – ciri morfologi yang masih menyerupai sifat – sifat dan ciri – ciri batuan induknya. Jenis tanah ini sebaiknya diusahakan agar dipercepat pertumbuhan tanahnya, antara lain dengan cara penghutanan atau tindakan lain untuk mempercepat proses pelapukan.
Tanah ini banyak terdapat di daerah pegunungan kapur dan daerah karst di jawa tengah, jawa timur, madura, nusa tenggara dan maluku selatan. Sedangkan untuk daerah di sumatera, jenis tanah ini terdapat luas di wilayah bentukan – bentukan palegonik yang tersusun atas batuan – batuan kwarsit, konglomerat, granit dan batu lapis.







  

DAFTAR PUSTAKA


Hardjowigeno, S. 1992. Ilmu Tanah. Edisi ketiga. PT. Mediyatama Sarana Perkasa.
Jakarta
Darmawijaya, D. 1997. Klasifikasi tanah. Edisi ketiga. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta
Hanafiah, Kemas A. 2007. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Pt. Raja Grafindo Persada : Jakarta

Mengenai Saya

Foto saya
Mahasiswa Pendidikan Geografi Universitas Negeri Yogyakarta Angkatan 2010

My Writings